Peneliti Italia Melaporkan Kejadian Keringat Darah

Raka Lestari    •    Selasa, 24 Oct 2017 14:08 WIB
kesehatan
Peneliti Italia Melaporkan Kejadian Keringat Darah
Pasien berusia 21 tahun melakukan pemeriksaan medis setelah tiga tahun mengalami pendarahan dari telapak tangan dan wajahnya. (Foto: Ilustrasi. Dok. Volkan Olmez/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Keringat yang berlebihan bisa menyebabkan noda dan bau yang tidak membuat nyaman dan rasa malu. Namun hal itu terjadi jika Anda berkeringat seperti biasa. Berbeda dengan seorang pasien di Italia yang berkeringat darah. 

Pasien berusia 21 tahun melakukan pemeriksaan medis setelah tiga tahun mengalami pendarahan dari telapak tangan dan wajahnya. Ia tidak mengalami luka apa pun dan sepertinya tidak ada yang menyebabkan atau memicu pendarahannya tersebut.

Kondisinya sangat buruk sehingga dia bisa mengisolasi dirinya sendiri dan diikuti gejala yang berkaitan dengan depresi dan gangguan rasa panik. 

Setelah mengamati dan menyembuhkan depresi dan gangguan kecemasannya, Dokter Florentine mendiagnosis pasien menderita "hematohidrosis," kondisi langka "keringat darah."

Tetapi bahkan sampai hari ini, dokter tidak tahu apa yang menyebabkan kondisi tersebut. Analisis terhadap kulit pasien tidak ada yang abnormal, menurut laporan para peneliti di Canadian Medical Association Journal.


(Pasien berusia 21 tahun melakukan pemeriksaan medis setelah tiga tahun mengalami pendarahan dari telapak tangan dan wajahnya. Foto: Dok. Image Reprinted with permission from CMAJ. Gizmodo.com)

(Baca juga: Kenali Perbedaan Bercak Darah Tanda Kehamilan dan Menstruasi)

Sejarah dari keringat darah sendiri cukup panjang, dimulai dari sejak zaman Aristoteles dan Abad Pertengahan. Kondisi ini juga kerap dikaitkan dengan Veil of Veronica, sebuah kain yang terdapat wajah Yesus. Namun kejadian ini masih belum bisa dikonfirmasikan secara ilmiah. 

Sejarawan medis Jacalyn Duffin dari Queen's University di Ontario, meninjau 42 artikel medis mengenai kondisi tersebut sejak tahun 1880. Dan melihat bahwa hampir setengah dari artikel tersebut berasal dari lima tahun terakhir, namun masih banyak yang meragukan kondisi dan kebenarannya.

"Ironisnya, bagi dunia yang sudh semakin sekuler, hal-hal yang berhubungan dengan misteri keagamaan semakin sulit diterima keberadaannya," 

Para ilmuwan Italia akhirnya memilih untuk mengobati pasien mereka dengan beta blocke yang disebut propranolol dan memberikan suntikan moral kepada pasien karena orang lain pernah merawat pasien dengan cara yang sama di masa lalu. Cara ini berhasil, tapi tidak menghentikan pendarahan sepenuhnya. 










(TIN)