Yang Harus Dilakukan Saat Gejala Stroke Muncul

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 03 Oct 2017 16:48 WIB
stroke
Yang Harus Dilakukan Saat Gejala Stroke Muncul
Terdapat dua jenis faktor risiko stroke yaitu yang bisa dikendalikan dan tidak bisa dikendalikan. (Foto: Medical News Today)

Metrotvnews.com, Jakarta: Beberapa waktu lalu sempat beredar pesan dalam Whatsapp tentang penanganan penderita Stroke. Ada yang menyebutkan pemberian pertolongan dengan menusukkan jarum di salah satu jari atau di telinga bagian belakang. Namun apakah cara tersebut benar adanya? Berikut ini informasi lebih detailnya.

Stroke adalah gangguan saraf mendadak yang bila tak ditangani dapat menyebabkan kerusakan saraf permanen. Menurut ahli saraf Dr. dr. Ismail Setyopranoto, Sp.S dari RSUP Dr. Sardjito Yoyakarta mengatakan, "seseorang yang mengalami gejala stroke harus segela dilarikan ke rumah sakit tanpa perlu melakukan pertolongan apa pun." 



(Baca juga: Mengapa Penderita Stroke Jadi Sulit Berbicara?)

Beberapa pertanda dari serangan stroke adalah:

1. Lemah separuh anggota gerak

2. Kesemutan separuh anggota gerak

3. Penurunan kesadaran

4. Bicara pelo dan mulut pencong dimana berujung pada tak bisa bicara

5. Selain itu, penglihatan menjadi hilang sebagian

6. Dan gangguan kognitif mendadak terganggu atau pikun. Sensasi pusing umumnya mengikuti gejala tersebut. 



"Usahakan kurang dari tiga jam setelah serangan, pasien sudah mendapat penanganan dari dokter ahli," saran dr. Ismail dalam pesan singkat kepada Metrotvnews.com, Selasa (3/10/2017). 

Ia menambahkan, prognosis atau penentuan rencana perawatan selanjutnya akan lebih baik dibandingkan penanganan yang lebih dari tiga jam. "Oleh karena itu, pasien yang memiliki faktor risiko stroke harus disiplin kontrol ke dokter," saran dr. Ismail. 

Ia mengingatkan, terdapat dua jenis faktor risiko stroke yaitu yang bisa dikendalikan dan tidak bisa dikendalikan. Bebepa faktor yang bisa dikendalikan adalah kontrol penyakit (diabetes melitus dan hiperkolesterol), kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, obesitas, kurang gerak, serta polusi udara. 

Sementara, faktor risiko yang tak bisa dikendalikan adalah usia, jenis kelamin, dan riwayat pernah mengalami stroke. 










(TIN)