Efek Buruk Stres Sama Bahayanya Seperti Junk Food

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 18 Oct 2017 15:57 WIB
kesehatan
Efek Buruk Stres Sama Bahayanya Seperti Junk Food
(Foto: Hypnotherapy)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa stres memiliki efek membahayakan seperti junk food  pada tubuh.

"Terkadang kita berpikir bahwa stres adalah fenomena psikologis, namun hal tersebut memberikan perubahan fisik yang kentara," ujar Laura Bridgewater, Professor di Brigham Young University, Amerika Serikat.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Scientific Reports tersebut menemukan bahwa tikus betina yang terpapar stres mengalami perubahan mikrobiota usus yang serupa dengan makan terlalu banyak makanan tinggi lemak.

Bridgewater dan para rekan dari Shanghai Jiao Tong University di China melakukan penelitian pada sekelompok tikus betina dan jantan berusia delapan minggu dengan memberi hewan percobaan tersebut pola makan tinggi lemak.

Setelah 16 minggu, semua tikus terpapar stres ringan dalam 18 hari. Para peneliti kemudian mengekstrak DNA mikroba dari tinja tikus sebelum dan sesudah stres untuk menguji bagaimana mikrobiota usus terpengaruh.

Mereka juga mengukur tingkat kecemasan tikus berdasarkan seberapa banyak dan kemana saja tikus berjalan di arena lapangan. Hasilnya, terdapat perbedaan menarik pada kedua gender: tikus jantan yang memiliki pola makan tinggi lemak terlihat lebih cemas dibandingkan tikus betina dengan pola makan serupa. Kelompok tikus jantan tersebut juga mengalami penurunan aktivitas akibat stres yang dialami.

Namun, perubahan komposisi mikrobiota usus akibat stres hanya dialami pada tikus betina, yang mana hal tersebut umumnya dialami mereka yang memiliki pola makan tinggi lemak.

Meskipun baru diuji coba pada hewan, para peneliti percaya bahwa terdapat implikasi signifikan pada manusia.

"Dalam masyarakat, wanita cenderung memiliki tingkat depresi dan cemas lebih tinggi, sehingga berhubungan dengan stres. Studi ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan sumber lain seperti perbedaan jenis kelamin membuat mikrobiota usus memberi respons berbeda pada stres," terang Bridgewater.




(DEV)