Travelling Bantu Penderita Depresi agar Tak Terjebak Bunuh Diri

Patricia Vicka    •    Selasa, 22 Aug 2017 18:12 WIB
tips kesehatan
Travelling  Bantu Penderita Depresi agar Tak Terjebak Bunuh Diri
(Foto: Steemit)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Maraknya kasus bunuh diri yang terjadi akhir-akhir ini bisa ditekan dengan meminimalisir faktor-faktor penyebabnya. Travelling, adalah salah satu cara ampuh untuk mengurangi keinginan bunuh diri.

Ahli psikologi Klinis UGM, Dra Sumarni menjelaskan travelling bisa membuat seseorang melupakan sejenak permasalahan dan hal-hal yang memicu stress dan depresi.

Rasa tenang dan rileks saat travelling, membuat jiwa dan suasana hati seseorang lebih stabil sehingga bisa berfikir dengan kepala dingin, mencari solusi dari permasalahan hidup.

"Orang ingin bunuh diri biasanya karena sudah buntu tidak bisa menemukan solusi dari depresi atau stress. Travelling  membantu seseorang jadi lebih tenang. Orang kalau sudah tenang bisa lebih berfikir dengan logika dan lebih mau terbuka sama orang lain," jelasnya dalam diskusi Fenomena Bunuh Diri: Aspek Psikiatri dan Psikologi di Fakultas Kedokteran UGM, Selasa 22 Agustus 2017.

Travelling  juga membuat kesehatan mental dan jiwa seseorang senantiasa sehat. Sebab seseorang bisa mendapatkan pandangan baru soal hidup dari kehidupan orang lain yang ditemuinya saat berpergian.

Salah seorang dokter muda yang pernah mencoba bunuh diri, Hansen membenarkan pendapat dokter Sumarni.  Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri usai travelling  ke kota lain seorang diri. Dalam perjalanannya itu, ia sadar bahwa hidupnya jauh lebih beruntung dibandingkan hidup orang lain.

"Dulu waktu saya depresi dan mau bunuh diri, saya coba pergi ke kota lain tanpa membawa harta. Di situ saya sadar kalau hidup saya sangat berutung punya banyak uang dan tidak perlu hidup susah seperti orang-orang tidak mampu. Akhirnya saya mencoba mendedikasikan hidup saya untuk menolong orang yang susah," jelas pria lulusan Fakultas Kedokteran UGM ini dalam acara yang sama.

Ia mengaku pernah belasan kali mencoba bunuh diri saat berusia 20-21 tahun. Seperti menusuk diri, melompat dari latai atas rumah. Keinginan ini dipicu karena kedua orang tuanya yang tidak pernah puas dengan prestasi yang diraihnya. Selain itu ia merasa selalu disalahkan orang tua. Hal ini membuat ia menganggap hidupnya malah membebani kedua orang tuanya.

"Saya dulu berfikir kalau saya mati dengan menusuk diri di depan orang tua. Maka beban mereka akan hilang. Ternyata saya salah. Mama saya malah sedih dan terpuruk kalau saya mati. Saya akhirnya tak pernah berfikir bunuh diri lagi," katanya.

Kini, Hansen menghabiskan waktunya sebagai motivator untuk menyemangati para remaja bangkit dari keterpurukan dan masalah hidup serta menjauhi niat bunuh diri. Ia mendorong naak muda untuk peka mencegah temannya agar tidak bunuh diri.

Hansen membocorkan tips mencegah teman bunuh diri. Tips pertama adalah peka dan selalu berada di samping teman yang mengalami depresi dan stress.

"Kalau teman kamu menunjukkan gelagat aneh seperti murung, lebih banyak diam, pernah bilang mau bunuh diri tandanya kamu harus selalu disamping dia. Temani dia terus walaupun dia belum mau terbuka," katanya.

Langkah kedua adalah jalin komunikasi yang kuat dan siapkan kuping untuk mendengar keluh kesah teman. Saat kondisi jiwa teman belum stabil, sebaiknya kita tidak perlu memberi masukan dan cukup mendengarkan saja keluhannya.

Usai kondisi teman stabil, langkah selanjutnya adalah menemni dia melakukan hal-hal yang bia membuatnya bahagia kembali. Jika bertambah parah, bisa membawanya ke psikolog atau pskiater.

 


(DEV)