Polusi Udara Sebabkan Efisiensi Tidur Menurun

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 25 May 2017 11:22 WIB
tidur
Polusi Udara Sebabkan Efisiensi Tidur Menurun
Umumnya tingkat polusi udara tak hanya mempengaruhi jantung dan paru-paru, namun juga kualitas tidur. (Foto: Pinterest/Sickstyle)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa tingginya paparan polusi udara karena padatnya kendaraan dapat berpengaruh pada gangguan tidur.

Penemuan tersebut menyebutkan bahwa polusi udara yang disebabkan oleh kemacetan, yaitu nitrogen oksida (NO2), dapat mengakibatkan efisiensi tidur yang rendah yang dilihat dari persentase waktu tidur dibandingkan dengan waktu terjaga dan peningkatan waktu terbangun saat tidur.



"Studi ini mengindikasikan bahwa umumnya tingkat polusi udara tak hanya mempengaruhi jantung dan paru-paru, namun juga kualitas tidur," tukas pemimpin studi Martha E. Billings, MD, MSc, asisten profesor di University of Washington.

(Baca juga: Bagaimana Polusi Udara Merusak Mata)

Ia menjelaskan, efek yang ditimbulkan adalah iritasi saluran udara bagian atas, pembengkakan dan hidung tersumbat, dan kemungkinan mempengaruhi sistem saraf pusat dan area otak yang mengontrol pola pernapasan dan tidur.

Studi tersebut menunjukkan, 88 persen partisipan  memiliki efisiensi tidur yang rendah dan 11 persen memiliki waktu terjaga selama 60 menit di tempat tidur.

Lebih lanjut, data tersebut menyebutkan bahwa mereka yang memiliki tingkat NO2 tertinggi selama lima tahun mengalami peningkatan risiko efisiensi tidur rendah hampir mencapai 60 persen dibandingkan mereka yang memiliki tingkat terendah.



Sementara itu, mereka yang memiliki paparan para partikel kecil (PM2.5) cenderung mengalami peningkatan untuk mengalami efisiensi tidur rendah sebesar 50 persen.

Paparan polusi udara sendiri dapat mengakibatkan kematian akibat kardiovaskular dan gangguan paru-paru seperti asma, infeksi pernapasan ringan, hingga sleep apnea.

Kurang tidur sendiri dapat menyebabkan depresi, gangguan jantung, obesitas, dan penurunan drastis pada kesehatan secara keseluruhan. Studi tersebut menganalisa data dari 1.863 partisipan yang rata-rata berusia 68 tahun.







(TIN)