Patah Tulang Jangan Diurut

Media Indonesia    •    Rabu, 02 Nov 2016 10:41 WIB
tips kesehatan
Patah Tulang Jangan Diurut
(foto:chiro.org.uk)

Metrotvnews.com, Jakarta: Patah tulang merupakan kasus yang sering terjadi. Penyebabnya bisa karena kecelakaan ataupun dampak dari penyakit osteoporosis yang menyebabkan tulang keropos dan rawan patah. Apa pun penyebabnya, patah tulang harus ditangani dengan benar secara medis. Hindari membawa pasien patah tulang ke penyembuh tradisional alias tukang urut.

"Tulang yang patah sebenarnya akan menyambung sendiri. Tugas kita ialah mendekatkan ruas-ruas yang patah sehingga bisa menyambung dengan baik, tidak berubah bentuk yang menimbulkan kecacatan," ujar dokter spesialis ortopedi dan traumatologi dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ) Jakarta, Franky Hartono, pada diskusi kesehatan di rumah sakit tersebut beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, untuk mendekatkan ruas-ruas tulang yang patah dilakukan dengan bantuan alat tertentu bergantung pada kasusnya. Ada yang sekadar dipasang papan fiksasi, gips, dna ada pula yang harus dipasang pen. Dokter akan menentukan tindakan sesuai kondisi tulang yang patah.

Apa jadinya bila tulang yang patah diurut? Menurut Franky, hal itu berisiko membuat posisi ruas tulang yang patah makin berjauhan atau dalam posisi yang tidak pas sehingga ketika sembuh nanti malah bengkok tidak normal.

Sering didapati, pasien patah tulang yang mengalami kelainan bentuk tulang karena diurut harus menjalani proses pembenahan yang rumit. Bahkan, ada yang tulangnya harus dipatah ulang untuk membenahi posisinya agar bentuknya normal kembali.

Selain berisiko menimbulkan kecacatan, lanjut Franky, pengurutan tulang yang patah juga berisiko memicu timbulnya kanker. "Pernah ada pasien anak patah tulang lalu dibawa ke tukang urut.

Beberapa bulan kemudian dia mengalami kanker tulang di lokasi bekas patahan tersebut," ujar dokter yang juga Kepala Divisi Hip, Knee, and Geriatric Trauma Orthopaedic Center SHKJ itu.

Ia menjelaskan, ketika tulang patah, terjadilah peradangan. Peradangan yang mendapat rangsang berlebih seperti tindakan pengurutan bisa memicu timbulnya kanker.

Dokter spesialis ortopedi dan traumatologi SHKJ lainnya, Karina Besinga, menambahkan bahwa kemungkinan timbulnya kanker tersebut karena dalam diri si anak itu sudah ada bakat kanker. Bakat itu muncul karena ada rangsangan dari proses pengurutan pada area patah tulang.

"Kita tidak pernah tahu apakah dalam diri kita sudah ada bakat kanker atau tidak. Jadi, untuk amannya, tangani patah tulang dengan prosedur medis yang benar," katanya.

Osteoporosis

Pada kesempatan itu, Franky juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai osteoporosis, penyakit yang membuat tulang mudah patah. Penyakit itu kerap disebut silent disease karena terjadi tanpa gejala. Tahu-tahu tulang patah karena 'kecelakaan' kecil seperti terbentur pintu, terpeleset di kamar mandi, atau tersandung karpet.

"Osteoporosis adalah penyakit tulang yang ditandai dengan pengurangan massa atau kepadatan tulang sehingga mengakibatkan tulang menjadi keropos. Umumnya terjadi pada kaum lanjut usia," ujar Franky.

Ia menjelaskan, pada usia 30-an tahun tulang mencapai kekuatan dan kepadatan tertinggi. Sat melewati usia tersebut, sel tulang perlahan mulai berubah bahkan dapat mengalami pengurangan kepadatan tulang yang masif hingga terjadi osteoporosis.

"Gejala osteoporosis biasanya tidak dirasakan pasien hingga terjadi cedera. Diagnosis dini osteoporosis dapat dilakukan melalui pemeriksaan bone mass density (BMD) untuk menilai kepadatan tulang.


(DEV)