Banyak Orangtua Stres Akibat Bermain Smartphone

Sri Yanti Nainggolan    •    Minggu, 16 Oct 2016 09:49 WIB
studi kesehatan
Banyak Orangtua Stres Akibat Bermain <i>Smartphone</i>
(Foto: Foxnews)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi menemukan, orang tua yang menggunakan smartphone sebagai hiburan, justru menganggap gadget sebagai sumber distraksi dan penyebab stres yang besar.

Ketika para peneliti bertanya pada sekelompok orang tua secara mendetail tentang pendapat mereka setelah menggunakan teknologi tersebut, mereka menjawab bahwa banyak konflik internal tentang bagaimana alat tersebut mengubah hidup mereka.

"Setiap ada teknologi baru yang diperkenalkan, hal tersebut cukup mengganggu, yang dalam hal ini sama seperti bagaimana sebuah keluarga rasakan saat kemunculan TV atau telepon," ujar pemimpin studi Dr Jenny Radesky, seorang peneliti pediatrik di C.S Mott Children's Hospital milik University of Michigan di Ann Arbor.

Yang membedakan adalah tingkat adopsi dan saturasi dalam hal teknologi seluler dengan teknologi yang lebih tua. Misalnya, iPad membutuhkan 80 hari untuk mencapai 50 juta pengguna global, sementara TV selama 14 tahun.

Smartphone atau tablet sendiri telah mengaburkan batas antara kehidupan pekerjaan, rumah, dan sosial dimana para orang tua berusaha menyeimbangkannya, namun justru menyebabkan konflik internal dan interaksi negatif pada anak-anak.

Untuk lebih mengetahui bagaimana perasaan orang tua terhadap gadget, para peneliti melakukan wawancara mendalam 35 orang yang terdiri dari ibu, ayah, dan nenek.

Di satu sisi, banyak partisipan yang tetap memegang gadget saat menghabiskan waktu bersama anak-anak selama berjam-jam di rumah. Namun di sisi lain, mereka merasa tertekan karena harus tetap responsif menanggapi email dari pekerjaan selama bermain dengan sang buah hati atau berisiko dicap sebagai karyawan yang buruk.

"Ini adalah takut tidak relevan dalam karir profesional Anda," kata salah seorang ayah dengan satu anak dalam survei.

Semakin banyak notifikasi yang muncul di layar smartphone, semakin sedikit perhatian orang tua kepada anak. Kemudian, saat anak bertingkah untuk mendapat perhatian,orang tua justru membentak mereka.

Terkadang, gadget tersebut juga bisa memberikan sedikit pelarian, seperti dengan bermain video game atau bercengkerama dengan teman-teman di media sosial.

"Ini adalah salah satu bentuk pelarian diri, namun saya yakin ini tak sehat dan akhirnya menjadi semacam konflik bagi saya," tukas seorang ibu.

Permasalahan terletak pada orang tua yang tak bisa fokus pada gadget atau anak-anak sekaligus.

"Generasi yang lebih muda percaya bahwa mereka bisa multitasking, melakukan sesuatu berbarengan, padahal itu tak benar," ujar Larry Rosen, profesor emeritus di California State University, Dominguez Hills.

Begitu mereka menyadarinya, hal itu menambah lapisan stres mereka dalam hal membesarkan anak.

Meskipun sulit untuk menghindari terpaan pekerjaan di gadget di luar jam kerja, orangtua masih bisa meminimalkan stres tersebut dengan beberapa cara sederhana, seperti tidak menyalakan smartphone saat bersama keluarga, seperti makan malam atau pikinik.

"Begitu banyak dari kehidupan mereka yang terkandung dalam perangkat ini, seperti pekerjaan, persahabatan, berita dunia, banyak informasi, sehingga mereka memberikan respon lebih kognitif dan emosional dalam menanggapi penelitian ini. Tentunya bukan hal yang mudah untuk menyeimbangkan keduanya," kata Radesky.

 


(DEV)