Masyarakat Indonesia Kecanduan Karbohidrat

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 19 Oct 2016 12:46 WIB
kesehatan
Masyarakat Indonesia Kecanduan Karbohidrat
Di tahun 2013, data Riskesdas menunjukkan bahwa 53,1 persen orang Indonesia mengkonsumsi makanan bergula dan 26,2 persen makanan bergaram. (Foto: Bbci)

Metrotvnews.com, Jakarta: Disadari atau tidak, masyarakat Indonesia memiliki ketergantungan berlebih pada salah satu sumber nutrisi makanan, yaitu karbohidrat.

"Misalnya, belum terasa makan bila tidak pakai nasi. Atau makan nasi dengan lauk kentang atau mie yang pada dasarnya juga termasuk karbohidrat," jelas Dr. Grace Judio-Kahl, Msc dalam acara Jakarta Food Editor's Club (JFEC) Gathering, Selasa (18/10/2016).

Kebiasaan ini bisa digolongkan sebagai carbohydrate addiction atau keinginan kuat untuk mengkonsumsi suatu jenis makanan, dalam hal ini karbohidrat, yang tidak berhubungan dengan kebutuhan tubuh.

(Baca juga: Timun, Rahasia Diet Para Artis Hollywood)

Menurut dr. Grace, masyarakat Indonesia sendiri tak bisa lepas dari karbohidrat olahan yang terus dikonsumsi dari pagi, siang, hingga malam.

"Pagi hari kita makan bubur dengan porsi bubur yang lebih besar dari lauknya. Siang hari, kita makan nasi dengan lauk yang biasanya didominasi dengan karbohidrat juga seperti mie. Belum lagi cemilan yang juga banyak mengandung tepung, misalnya cireng," tambah.

Konsumsi karbohidrat olahan tersebut memicu produksi serotonin yang memberikan perasaan menenangkan dan menyenangkan sekaligus meningkatkan hormon dopamin yang memberi efek kecanduan.

Menurut Riskesdas 2010, Indonesia berada di urutan ke-10 sebagai negara dengan jumlah penduduk obesitas terbanyak di dunia. Salah satu penyebab terbesar dari kegemukan berlebih tersebut adalah konsumsi karbohidrat berlebih dan meningkatnya konsumsi makanan cepat saji yang tinggi lemak, garam, dan gula.

Di tahun 2013, data Riskesdas menunjukkan bahwa 53,1 persen orang Indonesia mengkonsumsi makanan bergula dan 26,2 persen makanan bergaram. Dampaknya, jumlah penderita obesitas naik lebih dari 2,5 kali lipat pada pria, dan 2,8 kali lipat pada wanita pada tahun 2010-2013.








(TIN)