Trombolisis Cegah Penderita Stroke dari Risiko Cacat

Nia Deviyana    •    Rabu, 05 Oct 2016 17:38 WIB
kamus kesehatan
Trombolisis Cegah Penderita Stroke dari Risiko Cacat
(Foto: Medscape)

Metrotvnews.com, Jakarta: Penyakit stroke merupakan kejadian rusaknya sebagian otak. Berdasarkan penyebabnya, stroke dibagi menjadi dua, yaitu karena penyumbatan (iskemik), dan pendarahan (hemoragik).

"Stroke bisa terjadi karena suplai darah ke otak terhenti akibat penyumbatan, atau pecahnya pembuluh darah, sehingga sel-sel di sebagian area otak mati," jelas Dr Peter Gunawan, Sps. FAT Neurologic, spesialis syaraf dari RS Siloam TB Simatupang, Jakarta Selatan.

Untuk kasus pertama (stroke iskemik), prevalensinya lebih banyak, yakni sebanyak 80 persen. Namun, penderita stroke iskemik masih berpeluang terhindar dari kecacatan dibandingkan penderita stroke hemoragik yang umumnya tidak bisa pulih.

"Kuncinya adalah waktu," tambah Dr Peter.

Maksudnya, semakin cepat pertolongan, maka risiko cacat semakin kecil.

Saat ini, ada pengobatan stroke yang cukup efektif mencegah penderita stroke iskemik dari kecacatan, yaitu trombolisis. Terapi ini bertujuan membuka jalur sumbatan sehingga aliran darah kembali lancar.

Ada syarat utama yang harus dipenuhi untuk melakukan trombolisis. Tindakan ini boleh dilakukan maksimal 3 sampai 4,5 jam setelah serangan pertama. Jika lebih dari waktu tersebut, tindakan yang dilakukan berisiko pendarahan.

"Kalau jarak antara serangan dan diagnosis sudah lebih dari 4,5 jam, maka dokter tidak bisa melakukan trombolisis. Jadi, pertolongan terhadap penderita stroke memang kejar-kejaran dengan waktu," paparnya.

Stroke menjadi salah satu faktor penyebab tingginya angka disabilitas di Indonesia.

Berdasarkan diagnosis tenaga kerja kesehatan, diperkirakan sebanyak 1.236.825 orang Indonesia menderita stroke. Sementara, sebanyak 2.137.941 orang memiliki gejala yang mengarah kepada penyakit tersebut.


Terjadinya stroke dipengaruhi faktor risiko seperti usia lanjut, tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol, kebiasaan merokok, gangguan irama jantung, dan konsumsi alkohol.

Agar tidak terlambat dalam penanganan, kenali gejala utama stroke yang dirangkum dalam FAST, F (Face), A (Arm), S (Speech), dan T (Time)

1. Wajah

Gejala stroke bisa dideteksi dari perubahan wajah, menjadi asimetri. Misalnya, mulut menjadi mencong ke satu sisi. Untuk membedakan yang dialami termasuk serangan stroke atau bukan, cobalah tersenyum. Apabila satu sisi bibir tidak bergerak, maka dia terkena gejala stroke. Penderita juga sering mengeluarkan liur secara tiba-tiba dan mati rasa karena syaraf-syaraf di wajah sebagian tidak berfungsi.

2. Lengan

Gejala lainnya, terasa lemah pada salah satu lengan. Pasien akan kesulitan mengenakan pakaian, maupun memegang suatu benda. Cara yang biasanya diterapkan kepada pasien ialah dengan meminta pasien mengangkat kedua lengan. Jika lengannya lumpuh di satu sisi, maka terindikasi stroke.

3. Cara bicara

Apabila seseorang bicaranya kacau dan tidak dimengerti oleh orang lain, kemungkinan besar dia terkena gejala stroke. Untuk memastikan, lakukan dengan mengulang kata atau menyebut nama obyek atau benda. Seseorang yang terkena stroke berbicaranya pelo, bahkan lupa cara menulis dan membaca.

4. Waktu

Apabila seseorang mengidap salah satu dari tiga gejala di atas, maka jangan buang waktu. Segera pergi ke rumah sakit. Kehilangan waktu, berarti risiko 'kehilangan' otak semakin besar.


Dijelaskan Dr Peter, setiap 1,9 juta sel otak mengalami kerusakan saat terjadi serangan stroke. "Semakin luas kerusakan, maka kelumpuhan makin parah," ujarnya.





(DEV)