Cerita Pengidap HIV Tentang Penerimaan Diri Sendiri

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 01 Dec 2017 14:50 WIB
kisah inspiratifkisah
Cerita Pengidap HIV Tentang Penerimaan Diri Sendiri
Berawal dari ajakan teman untuk melakukan tes HIV, Antonio Nurdiyanto pun memberanikan diri melakukannya saat tengah menjalani liburan di Pulau Dewata pada Agustus 2012. (Foto: Metrotvnews.com/Sri Yanti Nainggolan)

Jakarta: Berawal dari ajakan teman untuk melakukan tes HIV, Antonio Nurdiyanto pun memberanikan diri melakukannya saat tengah menjalani liburan di Pulau Dewata pada Agustus 2012. 

"Saat itu seorang teman menanyakan apakah saya sudah pernah tes HIV, saya jawab belum. Ia menanyakan bagaimana keseharian saya, dan saya tahu memang saya berada pada kelompok berisiko," tukas Antonio dalam peluncuran kampanye #SayaBerani, Kamis 30 November 2017 lalu. 

Dalam keadaan tubuh sehat, Antonio pun melakukan tes HIV di salah satu klinik di Bali. Ternyata ia positif dan dokter pun menyarankan dia untuk ke Ruang Carlo di Rumah Sakit St Carolus, yang menyediakan sarana untuk pelayanan konseling yang komprehensif, khususnya mengenai kesehatan keluarga dan infeksi menular seksual, serta penyakit lanjut yang memerlukan pendampingan. 

Antonio mengaku saat mengetahui hasil tersebut merasa bingung. Ia tak tahu bagaimana harus memberitahu keluarganya terkait hal tersebut, bahkan ia sulit menerima dirinya sendiri. 

"Bahkan ada pada suatu titik dimana saya ingin bunuh diri karena merasa sudah tak bermanfaat, saya sudah mengecewakan keluarga," tukas pria berusia 32 tahun tersebut. 

(Baca juga: Terkena HIV 11 Tahun, Suksma Ratri Tetap Bisa Produktif)

Namun, ia mengurungkan niat tersebut, mengungat ajaran agama yang telah ia terima selama ini. "Mati bunuh diri bukahlah sesuatu yang bisa diterima Tuhan. Karenanya, saya meminta pada Tuhan, jika memiliki kesempatan kedua, untuk menjadikan hidup saya berharga." 

Akhirnya, November 2012 ia pun mulai siap melakukan pengobatan HIV. Awalnya ia sempat tak cocok dengan jenis obat Antiretroviral (ARV) yang diberikan dan mengalami ruam di sekitar badan dan demam hingga harus dirawat di rumah sakit selama semiggu, sebelum akhirnya menemukan obat yang cocok. 

Ia juga bercerita tentang bagaimana orangtuanya menerima dirinya yang mengidap HIV. "Saya pikir saya akan diusir, ternyata mereka justru mendukung pengobatan saya."

Antonio mengaku bahwa tes HIV memang menakutkan untuk dilakukan untuk beberapa kalangan, terutama mereka yang menjadi populasi kunci yaitu kaum Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT), pekerja seks komersial (PSK), dan pengguna Narkotika, Alkohol, Psikotropika, Dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA).

"Di lapangan masih banyak yang takut tes, karena belum bisa terima kenyataan. Namun, tak perlu khawatir karena sekarang ada obatnya," ujar Antonio yang kini aktif bergerak di Yayasan Kasih Suwitno, kelompok pelayanan untuk komunitas orang yang hidup dengan AIDS (ODHA) melalui kerjasama dengan Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta. 









(TIN)