Difteri Bisa Menyumbat Jalan Napas

   •    Rabu, 06 Dec 2017 13:18 WIB
klb difteri
Difteri Bisa Menyumbat Jalan Napas
Seorang anak mendapatkan suntikan Td (Tetanus-difteri) di SD Islam Terpadu Malang, Jawa Timur. (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

Jakarta: Difteri merupakan infeksi yang umumnya menyerang selaput lendir hidung dan tenggorokan. Di beberapa wilayah Indonesia, infeksi difteri mulai mewabah dan menjangkiti anak-anak maupun dewasa.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Pulungan mengatakan gejala yang ditimbulkan pada anak maupun dewasa hampir sama; demam, rasa tidak nyaman pada tenggorokan, hingga pilek. Namun harus gejala ini harus dibedakan dengan penyakit amandel.

"Khusus difteri ada selaput atau membran putih kehitaman, lama-lama bisa sampai tersumbat (jalan napas). Pada tahap lanjutan ketika (membran) disentuh akan berdarah," kata Aman, dalam Selamat Pagi Indonesia, Rabu 6 Desember 2017.

Aman menyebut diantara gejala yang khas selain munculnya selaput putih di pangkal tenggorokan adalah adanya keluhan demam tak terlalu tinggi dan leher yang membengkak.

Jika gejala tersebut muncul maka penderita harus dibawa ke puskesmas atau dokter terdekat. Yang perlu diperhatikan adalah pastikan bahwa gejala yang timbul adalah difteri dengan pemeriksaan laboratorium agar penanganan yang diberikan maksimal.

"Harus dipahami bahwa pasien difteri harus diisolasi dan yang paling menakutkan kalau tersumbat jalan napasnya harus di-trakeostomi, atau dibolongi lehernya untuk menyelamatkan," jelas Aman.

Aman mengingatkan bahwa satu-satunya cara mencegah penularan difteri adalah dengan pemberian vaksin atau imunisasi. Sayangnya sering kali ada pemahaman yang salah di masyarakat tentang imunisasi yang menyebut bahwa pemberian vaksin justru berbahaya bagi tubuh.

Selain karena anti-vaksin, umumnya masyarakat termakan hoaks yang disebarkan di media sosial bahwa pemberian vaksin dapat menimbulkan penyakit lain di kemudian hari.

"Masyarakat malah mengikuti selebritas yang tidak mengimunisasi anaknya atau memperlakukan anaknya tidak sesuai anjuran IDAI padahal ini salah. Harus diingat bahwa imunisasi itu ada Undang-undangnya, Kita hidup di negara hukum ya harus diikuti," jelasnya.




(MEL)