Pemilu Pengaruhi Tingkat Stres Warga Amerika Serikat

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 18 Oct 2016 08:00 WIB
studi kesehatan
Pemilu Pengaruhi Tingkat Stres Warga Amerika Serikat
Stres karena pemilu semakin diperburuk dengan adanya argumen, cerita, gambar, dan video di media sosial. (Foto: Blog.unfranchise)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah survei yang dikeluarkan oleh American Psychological Association (APA), menemukan 52 persen orang dewasa di Amerika Serikat (AS) menganggap pemilihan umum (pemilu) Presiden di negara tersebut menjadi salah satu sumber stres yang signifikan dalam hidup mereka. 

Penemuan tersebut merupakan bagian dari Survei Tekanan di Amerika APA, dari Harris Poll yang melibatkan 3.511 orang dewasa yang tinggal di negara tersebut. Survei tersebut menanyakan tentang bagaimana stres memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan setiap tahunnya. The Washington Post melaporkan bahwa APA memasukkan pertanyaan seputar pemilu untuk tahun ini.

Berdasarkan survei, baik pria maupun wanita merasakan kecemasan terkait pemilu dimana bila berdasarkan dukungan partai, 59 persen pendukung Partai Republik dan 55 persen pendukung Partai Demokrat merasa stres. 

(Baca juga: Gejala Stres yang Perlu Diwaspadai)

Usia, turut menjadi faktor penyebab. Kaum milenial dan mereka yang berusia si atas 71 tahun merasakan tingkat stres yang lebih signifikan dibandingkan generasi Baby Boomers dan Generasi X. Survei tersebut juga menemukan bahwa stres karena pemilu jauh lebih besar daripada sumber stres lainnya. 

Media sosial adalah salah satu hal penyebab mengapa kecemaskan terkait pemilu membesar. Berdasarkan survei, responden yang menggunakan media sosia cenderung mengalami stres lebih tinggi daripada mereka yang tidak aktif di dunia maya seperti Facebook, Twitter, dan media sosial lainnya. 

"Stres karena pemilu semakin diperburuk dengan adanya argumen, cerita, gambar, dan video di media sosial karena memunculkan kepedulian dan frustasi, terutama dengan adanya ribuan komentar, dari yang berdasarakan fakta hingga memunculkan permusuhan," ujar Lynn Bufka, PhD, direktur eksekutif asosiasi APA untuk penelitian praktek dan kebijakan, dalam siaran pers.






(TIN)