Obat Tidur Mungkin Berisiko Terhadap Pasien Demensia

Anggi Tondi Martaon    •    Jumat, 27 Jul 2018 12:10 WIB
demensia
Obat Tidur Mungkin Berisiko Terhadap Pasien Demensia
Menurut penelitian salah satu alternatif yang bisa diterapkan pada pasien dengan demensia adalah terapi non farmakologi. (Foto: Noah Silliman/Unsplash.com)

Jakarta: Obat tidur bisa menjadi salah satu solusi bagi orang yang mengalami insomnia. Namun, dilansir dari tulisan Robert Preidt yang berjudul "Sleeping Pills May Be Risky for Dementia Patients" mengatakan bahwa cara ini tidak baik bagi penderita demensia.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Chris Fox dari Norwich Medical School di the University of East Anglia di Inggris, pil tidur dapat meningkatkan risiko patah tulang bagi penderita demensia. 

Dalam penelitianya, Fox dan rekan peneliti membandingkan data dari hampir 3.000 pasien demensia yang mengonsumsi obat tidur yang biasa diresepkan, yaitu zolpidem, zopiclone dan zaleplon atau Z-drugs. Dari keseluruhan responden, hanya 1.700 pasien demensia yang tidak mengonsumsi obat-obatan. 

Hasilnya, penderita yang mengonsumsi obat tidur memiliki risiko 40 persen lebih tinggi mengalami semua jenis patah tulang. "Risiko semakin meningkat jika mengonsumsi obat dengan dosis tinggi," sebut dalam laman yang sama lagi.


(Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Chris Fox dari Norwich Medical School di the University of East Anglia di Inggris, pil tidur dapat meningkatkan risiko patah tulang bagi penderita demensia. Foto: Ian Espinosa/Unsplash.com)

(Baca juga: Apa Yang Mesti Anda Lakukan Saat Susah Tidur)

"Sekitar separuh penderita demensia sulit tidur, sering bangun dan berkeliaran di malam hari. Ini sangat memengaruhi kualitas hidup mereka dan orang-orang yang merawat mereka," kata pemimpin peneliti Chris Fox, dari Norwich Medical School di Universitas East Anglia di Britania Raya saat dikutip dari WebMD.

Fox menyebutkan, meski mengatasi insomnia, namun mengonsumsi obat tidur memiliki efek lain yaitu manjadi lebih bingung dan masalah lain, seperti jatuh dan patah tulang. 

"Orang dengan demensia sangat rentan dan tidak jelas apakah Z-drugs sangat berbahaya bagi mereka," terang Fox.

Oleh karenanya, Fox menyarankan agar penderita demensia yang mengalami gangguan tidur untuk menghindari cara ini. Menurutnya, salah satu alternatif yang bisa diterapkan adalah non farmakologi (terapi tambahan yang berfungsi untuk meningkatkan efikasi obat).

"Dan ketika Z-drugs diresepkan, pasien harus menerima perawatan yang mengurangi atau mencegah terjadinya jatuh," ujar Fox.




(TIN)