Mengenal Sindrom Putri Tidur

   •    Senin, 30 Oct 2017 16:23 WIB
kesehatan saraf
Mengenal Sindrom Putri Tidur
Ilustrasi. (Thinkstock)

Metrotvnews.com, Jakarta: Praktisi Kesehatan Tidur dr Andreas Prasadja menduga Siti Raisa Miranda atau akrab disapa Echa, remaja asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, yang tidur hingga berhari-hari mengidap sindrom Kleine Levin atau sindrom putri tidur.

"Dugaannya demikian dilihat dari gejala-gejala yang ditimbulkan. Penderitanya tidak banyak dan bisa dibilang langka. Di Indonesia beberapa kali saya temukan," ungkap Andreas, dalam Metro Siang, Senin 30 Oktober 2017.

Andreas mengatakan meskipun tak menunjukkan gejala berat selain kantuk, sindrom Kleine Levin atau juga disebut sindrom putri tidur merupakan sebuah penyakit yang disebut hypersomnia. Di Indonesia sendiri cukup banyak kasusnya.

Penyakit tidur, kata Andreas, tak cuma hypersomnia. Dari derajatnya yang paling rendah ada Behaviorally Induced Insufficient Sleep Syndrom (BIISS) yang ditandai kantuk berlebih karena kurang tidur atau aktivitas. 

Kemudian sleep apnea yang ditandai dengan mendengkur, periodic limb movement in sleep dimana tubuh tidak dapat menahan kantuk, narcolepsy atau serangan tidur secara tiba-tiba hingga yang paling parah adalah sindrom Kleine Levine yang membuat penderitanya tidur minimal sampai satu minggu.

Menurut Andreas, sindrom Kleine Levine bisa dikatakan sebagai sindrom kambuhan. Penderitanya akan menjalani aktivitas normal seperti biasanya kemudian beberapa bulan setelahnya mendapat serangan kembali.

"Sekitar 2-3 bulan muncul kembali. Sampai sekarang penyebabnya belum pasti. Yang bisa dikatakan sekarang ada gangguan di area thalamus di otak yang mengatur sistem tidur, pola makan dan seksualitas," ungkap Andreas.

Beberapa kasus, kata Andreas, ketika penderita terbangun, dia akan mengalami hyperphagia atau nafsu makan berlebihan atau hasrat seksual yang belebihan (hypersexual).

Andreas mengatakan efek dari sindrom Kleine Levin umumnya tidak tampak pada tubuh secara fisik. Gangguan lebih pada faktor kejiwaan dimana penderita menjadi tidak produktif ketika sindrom menyerang.

"Kita belum tahu penyebabnya, tetapi yang pasti Kita harus bedakan dengan penyakit tidur lain yang menyebabkan hypersomnia. Kalau sudah diperiksakan, kemungkinan penyakit sudah bisa disingkirkan, gejalanya khas baru bisa Kita diagnosa sebagai Kleine Levine Syndrome," jelasnya.




(MEL)