Penanganan Kanker Serviks Tertinggal Jauh

Indriyani Astuti    •    Kamis, 15 Jun 2017 12:07 WIB
kanker serviks
Penanganan Kanker Serviks Tertinggal Jauh
(Foto: dynamicchiropractic.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kematian akibat kanker serviks masih banyak terjadi di Indonesia. Meninggalnya artis Julia Perez (Jupe) menjadi salah pengingat akan bahaya kanker jenis ini.

Kanker serviks telah menjadi salah satu kanker penyebab kematian paling banyak ke-3 di Indonesia. Menurut data Globocan yang dirilis oleh WHO/ICO Information Centre on HPV and Cervical Cancer 2012, ada satu perempuan Indonesia meninggal dalam satu jam setiap harinya karena kanker serviks dan diprediksi terdapat 58 kasus baru setiap harinya.

Ketua Umum Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) Prof Andrijono SpOG(K) mengatakan, data 2016 di RSCM menunjukkan 82,3% pasien kanker serviks yang berobat di rumah sakit rujukan nasional tersebut datang di stadium lanjut.

Kanker serviks stadium lanjut sulit diobati. Akibatnya, angka kesintasan penderita sangat rendah. Hanya 14% yang bertahan hidup selama 1 tahun, 6% bertahan hidup sampai tahun ke-2 sejak terdiagnosis, dan 0% (tidak ada) yang mampu bertahan hidup sampai tahun ke-5.

"Vaksinasi merupakan langkah paling efektif dan aman mencegah kanker serviks. Berkaca dari pengalaman di Amerika Serikat dan Australia yang sudah menjalankan program vaksinasi HPV nasional sejak 10 tahun lalu, insiden kanker serviks di dua negara tersebut menurun signifikan sampai 75%," ujar Andrijono saat dihubungi Minggu (11/6).

Masih rendah

Keseriusan pemerintah dalam melakukan pencegahan kanker serviks memang masih sangat rendah. Hal tersebut terlihat dari belum ditetapkannya vaksinasi HPV pada anak perempuan sebagai program nasional. Padahal, vaksinasi dapat menurunkan risiko kanker serviks pada perempuan hingga mencapai 70%.

"Masih sangat kurang perhatian dan usahanya dari pemerintah. Padahal, kalau dihitung biayanya, akan jauh lebih besar pembiayaan untuk pengobatan dibanding dengan bila melakukan vaksin nasional pada siswa sekolah dasar," ujar Andrijono.

Andrijono mengatakan, di banyak negara dunia, kanker serviks sudah menjadi jenis kanker yang jarang terjadi. Program vaksin yang dilakukan sejak lama serta tingginya kesadaran masyarakat untuk deteksi dini menjadi penyebab utama. "Bahkan di negara-negara Afrika saja vaksinasi serviks sudah jadi program nasional. Indonesia sangat tertinggal jauh," tambah Andrijono.

Seorang anak yang telah mendapatkan vaksinasi, akan terlindung dari virus penyebab kanker serviks hingga 20 tahun mendatang. Dengan demikian, penurunan angka kanker serviks di seluruh Indonesia dipastikan akan dapat menurun bila vaksinasi dilakukan secara menyeluruh. "Sementara bagi yang telah dewasa, sudah seharusnya melakukan screening. Tidak ada lagi alasan untuk menolak screening," imbuh Andrijono.

Saat ini cakupan screening kanker serviks di seluruh Indonesia baru mencapai 10%, yakni 3,5% melalui IVA dan 7,5% melalui pap smear, atau baru sekitar 1,5 juta perempuan usia 30 tahun-50 tahun di Indonesia yang telah melakukan screening.

Deteksi dini perlu

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menganjurkan masyarakat, khususnya perempuan, untuk melakukan deteksi dini kanker serviks atau leher rahim dan kanker payudara untuk mencegah angka kesakitan dan kematian. Dengan deteksi dini, kejadian kanker dapat ditemukan lebih awal sehingga keberhasilan pengobatannya semakin besar.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Oscar Primadi dalam keterangan tertulis yang diterima di Denpasar, Minggu (11/6) mengatakan, kejadian meninggalnya dua orang publik figur Indonesia akibat kanker serviks dan kanker payudara beberapa hari lalu sebagai pengingat bahwa kanker merupakan masalah di dunia, termasuk di Indonesia.

Oleh karena itu, Oscar menganjurkan masyarakat terutama perempuan untuk segera melakukan deteksi dini kanker serviks dan payudara di fasilitas kesehatan. Deteksi dini kanker leher rahim dilaksanakan dengan metode inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) dan tindak lanjut dini dengan krioterapi jika ditemukan IVA positif, sedangkan deteksi dini kanker payudara dengan metode pemeriksaan payudara secara klinis (Sadanis).

"Saat ini lebih dari 3.700 puskesmas di seluruh Indonesia telah dilatih dalam pelayanan deteksi dini penyakit kanker payudara dan leher rahim, sedangkan untuk pengobatan segera dilakukan di rumah sakit kabupaten/kota secara berjenjang untuk rujukan kasus kanker," ujar Oscar.

Oscar juga menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir karena biaya deteksi dini kanker payudara dan kanker serviks (tes IVA) di puskesmas sudah masuk pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan.


(DEV)