Benang Merah Antara Alkohol, Depresi dan Bunuh Diri

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 21 Jul 2017 16:19 WIB
psikologi
Benang Merah Antara Alkohol, Depresi dan Bunuh Diri
Berbicara soal depresi, dr. Andi mengungkapkan bahwa 50 persen penderita gangguan jiwa tersebut bisa berulang, meskipun pernah melakukan pengobatan. (Foto: US News Health - US News & World Report)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kematian vokalis band Linkin Park, Chester Bennington (41) menambah daftar panjang aktris yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri. 

Bila menilik dari riwayat hidup ayah beranak enam tersebut, tindakan yang dilakukan Chester disebabkan oleh berbagai faktor. 

"Kita tak bisa sebutkan secara spesifik mengapa seseorang melakukan bunuh diri, karena sifatnya multifaktor. Untuk kasus Chester, ada berbagai hal seperti masalah alkohol, yang artinya penyalahgunaan zat dan masa lalu yang kurang baik seperti perundungan dan pelecehan seksual," tukas dr. Andri, SpKJ, FAPM dari Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera saat dihubungi Metrotvnews.com, Jumat 21 Juli 2017. 



Menurutnya, kebiasaan minum alkohol yang mulai dilakukan Chester saat melakukan tur Linkin Park tersebut dikarenakan depresi yang menumpuk dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat. 

(Baca juga: Mengapa Orang Terkenal Rentan Bunuh Diri?)

Pria kelahiran 1976 tersebut kemungkinan tidak mencari bantuan, seperti tenaga profesional yaitu psikiater, untuk mengatasi masalah gangguan kejiwaan yang dialaminya. 

Kondisi tersebut juga depresi yang disertai penyalahgunaan alkohol, dapat memicu seseorang melakukan aksi bunuh diri. 

"Keduanya adalah dua hal yang saling berkaitan. Dalam praktik, sering ditemukan penyalahgunaan zat pada pasien yang mengalami gangguan kejiwaan. Sebaliknya, mereka yang menggunakan zat terlarang juga rentan mengalami gangguan jiwa," tambahnya. 

Saat penggunaan alkohol dihentikan, gejala depresi cenderung agar kembali. Artinya, alkohol hanya menghilangkan gangguan tersebut sementara. 

"Penggunaan alkohol mampu menekan susunan saraf pusat agar terjadi proses seperti peniadaan gejala depresi,  namun tidak menghilangkan yang sebenarnya," tukasnya. 






Berbicara soal depresi, dr. Andi mengungkapkan bahwa 50 persen penderita gangguan jiwa tersebut bisa berulang, meskipun pernah melakukan pengobatan. 

Pada 2011 Chester pernah mengaku telah berhenti mengonsumsi obat-obatan terlarang dan alkohol pada tahun 2014. 









(TIN)