Deteksi Kanker Rongga Mulut dengan SAMURI

Dhaifurrakhman Abas    •    Jumat, 14 Dec 2018 13:10 WIB
kanker rongga mulut
Deteksi Kanker Rongga Mulut dengan SAMURI
Anda mesti mewaspadai jika menemukan kondisi yang menyerupai gejala awal pada kanker rongga mulut. Seperti perubahan warna mukosa, sariawan dan lainnya. (Foto: Ilustrasi. Dok. Jpe Gardner/Unsplash.com)

Jakarta: Kanker rongga mulut menjadi momok yang menakutkan. Pernah dinobatkan sebagai penyebab kematian terbesar kedua dunia setelah jantung dan infeksi (Johnson, 2003).

Kanker rongga mulut terjadi akibat kebiasaan dan gaya hidup yang buruk. Seperti merokok, mengonsumsi alkohol, tidak merawat kesehatan mulut hingga stres berkepanjangan.

Pada 2012, penyakit ganas ini bertanggung jawab atas 143.353 kematian masyarakat dunia setiap tahunnya. Masih di tahun yang sama, tercatat sedikitnya 300.373 orang di seluruh dunia terdiagnosa kanker rongga mulut.

"Dan, lebih dari separuh penderita berasal dari Asia," kata Ketua Ikatan Spesialis Penyakit Mulut Indonesia (ISPMI), Rahmi Amtha, di kawasan Gondangdia, Jakarta, Kamis 13 Desember 2018.

Kanker rongga mulut bikin geger. Kata Rahmi, penyakit ini hampir tak menunjukkan gejala khusus pada tahapan awal. Baik pada kondisi fisik maupun mental penderitanya.

"Sehingga masyarakat tak sadar sudah berada pada stadium akhir," ungkapnya.


(Kanker rongga mulut menjadi momok yang menakutkan. Pernah dinobatkan sebagai penyebab kematian terbesar kedua dunia setelah jantung dan infeksi (Johnson, 2003). Foto: Yoann Boyer/Unsplash.com)

(Baca juga: Gejala Kanker Tenggorokan yang Seringkali Diabaikan)

Penderita baru mulai berbondong-bondong mencari solusi ketika memasuki kondisi terparah atau stadium akhir. Sebab, saat itu, mulai terlihat perubahan bentuk fisik yang kentara. Semacam pertumbuhan jaringan tak lazim yang menggerogoti area rongga mulut.

Sayangnya, kabar buruk ini mesti disampaikan bagi yang terlambat berobat. Angka harapan hidup para penderita kanker mulut yang sudah memasuki stadium akhir terbilang rendah. Jauh lebih rendah ketimbang orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

"Hanya sekitar 13 sampai 30 bulan," ujarnya.

Berawal dari momok yang menakutkan itu, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) bersama Ikatan Spesialis Penyakit Mulut Indonesia (ISPMI) dan Exeltis bahu membahu mengedukasi masyarakat dalam dialog "Mencegah Kematian Akibat Kanker Rongga Mulut Dengan Deteksi Dini Lesi Pra Kanker."

Deteksi dini bisa dilakukan dengan cara SAMURI atau Periksa Mulut Sendiri. Dalam Gerakan Masyarakat (Germas) itu masyarakat diharapkan memeriksa bagian rongga mulut masing-masing secara personal.

Langkah pertama, Anda diharapkan mencuci tangan hingga higienis. Selanjutnya, periksa bagian rongga mulut yang meliputi bagian depan atas dan bawah, serta dinding mulut kiri dan kanan.

Selain itu periksa langit-langit rongga mulut bagian atas, lidah depan, bagian lidah kanan dan kiri, serta lidah bagian bawah.

Anda mesti mewaspadai jika menemukan kondisi yang menyerupai gejala awal pada kanker rongga mulut. Seperti perubahan warna mukosa, sariawan yang tidak sembuh, rasa sakit yang menetap di tempat yang sama dan benjolan yang tidak lazim.

Selain itu pembengkakan kelenjar getah bening di bagian leher, disfungsi lidah dan rongga mulut, pendarahan tidak normal serta berat badan turun tanpa sebab. Gejala-gejala tersebut juga meliputi sulit menguyah, trimsus, lesi dan gigi goyang tanpa sebab.

"Jika terdapat perubahan pada jaringan tadi, sebaiknya Anda cepat-cepat menemui dokter maupun spesialis," pungkasnya.


(TIN)