Gangguan Irama Jantung dan Stroke

   •    Jumat, 30 Sep 2016 11:47 WIB
kesehatan jantung
Gangguan Irama Jantung dan Stroke
Denyut jantung yang tidak teratur akan menyebabkan aliran darah tidak mengalir sebagaimana mestinya. (Foto: Shutterstock)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pernahkah Anda mendengar seseorang mengalami kelainan jantung sebagai penyebab terjadinya gejala stroke? Atau kelainan jantung apa yang dapat menyebabkan stroke?

Berikut ini beberapa penjelasan dari dr. Daniel Tanubudi, Sp.JP, FIHA, Tim Dokter Spesialis Jantung dari Eka Hospital BSD.

Kenali Irama Jantung
Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik, jantung harus memompa (berdenyut) secara teratur dan konsisten, sesuai dengan kegiatan yang kita lakukan. Pada saat istirahat, jantung akan berdenyut lebih pelan, namun akan berdenyut lebih cepat pada saat beraktivitas, kebutuhan seluruh sel tubuh, terutama otak meningkat dibandingkan pada saat istirahat. 

Denyut jantung juga akan meningkat pada saat emosi (sedih, marah, dsb), saat demam (suhu tubuh di atas normal). Peningkatan frekuensi denyut pada keadan-keadaan tersebut adalah normal.

Denyut jantung normal pada saat kita istirahat berkisar 60-100 kali/menit. Denyut jantung dikategorikan tidak normal apabila:
- Terlalu lambat (kurang dari 60 kali/menit).
- Terlalu cepat (lebih dari 100 kali/menit) dalam keadaan istirahat, atau denyut jantung yang tidak teratur.

Denyut Jantung Tidak Teratur
Denyut jantung tidak teratur dalam bahasa kedokteran disebut dengan Atrial Fibrilasi, yang ditandai dengan denyut jantung yang tidak teratur. Bagaimana cara memeriksa sendiri irama dan jumlah denyut jantung Anda?

Caranya: Letakkan 3 jari Anda mulai telunjuk sampai jari manis di pergelangan tangan dekat dengan ibu jari, dengan posisi tangan terbuka (seperti hendak menerima sesuatu), lalu rasakan denyut jantung Anda sendiri. Hitung kecepatannya dalam 1 menit. Rasakan juga keteraturannya.

Penyebab Atrial Fibrilasi
Berbagai hal dapat menyebabkan Atrial Fibrilasi, antara lain:
- Hipertensi.
- Penyakit jantung koroner.
- Gangguan mineral tubuh.
- Penyakit infeksi berat.
- Kelainan katub jantung.
- Gagal jantung.
- Kelainan kelenjar tiroid (kelenjar gondok).

Gejala Atrial Fibrilasi
Gejala yang dirasakan oleh pasien adalah mudah berdebar, lemas, cepat lelah, dada terasa tidak nyaman, pusing berputar, sampai gejala yang lebih berat seperti pingsan dan bahkan kematian.

Atrial Fibrilasi dan Stroke
Denyut jantung yang tidak teratur akan menyebabkan aliran darah tidak mengalir sebagaimana mestinya. Ditambah lagi, biasanya ada ruangan jantung terutama yang disebut serambi (Atrium) yang mengalami pembesaran. Semua hal itu menyebabkan mudahnya terbentuk bekuan darah dalam ruangan jantung. Pada saatnya, bekuan darah itu dapat mengalir bersama aliran darah ke otak dan menyebabkan penyumbatan. Saat itulah pasien akan mengalami stroke.

Menghitung Skor Atrial Fibrilasi
Risiko kejadian stroke pada pasien yang mengalami Atrial Fibrilasi dapat diramal dengan suatu sistem skoring yang disebut dengan CHADS2 score, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
- C = Congestive. Keadaan dimana jantung bengkak dan pompanya lemah. Apabila pasien memiliki kelainan ini makan mendapat poin 1.
- H = Hipertensi. Apabila pasien memiliki hipertensi, maka poin bertambah 1.
- A = Age. Apabila pasien berusia di atas atau sama dengan 65 tahun, maka poin bertambah 1.
- D = Diabetes. Apabila pasien juga menderita Diabetes Melitus atau penyakit kencing manis, maka poin akan bertambag 1 lagi.
- S = Stroke. Bila pasien sebelumnya atau saat ini pernah mengalami stroke, maka poin akan bertambah 2.

Skor poin 0-1, risiko stroke masih rendah sehingga belum diperlukan obat pengencer darah. Namun, apabila poin yang didapat 2 atau lebih, maka risiko stroke tinggi, sehingga diperlukan obat pencegahnya.

Mengobati Atrial Fibrilasi
Obat-obatan yang penting diberikan pada pasien yang mengalami Atrial Fibrilasi adalah:
1. Obat pengendali kecepatan denyut jantung. Tujuannya untuk melambatkan denyut jantung, walaupun masih tidak teratur, karena irama tidak teratur yang lebih cepat (lebih dari 100 kali/menit) akan membuat pasien merasa tidak nyaman.

2. Obat pengubah irama jantung menjadi normal. Obat ini dapat mengubah irama jantung yang tidak teratur (normal) kembali. Sayangnya tidak semua angka keberhasilan obat ini 100 persen. Perhatikan juga terhadap beberapa efek samping yang mungkin bisa ditimbulkan.

3. Obat pencegah kejadian stroke (pengencer darah/antikoagulan). Pasien Atrial Fibrilasi dengan CHADS2 Score 2 atau lebih, wajib mengonsumsi obat ini asalnya tidak ada kontraindikasi yang menyertainya. Kelemahan obat ini adalah banyak menimbulkan efek samping jika dikonsumsi bersama makanan maupun obat lain, sehingga harus dilakukan pemeriksaan darah secara berkala untuk menilai kekentalannya.




















Dr. Daniel Tanubudi, Sp.JP, FIHA
Tim Dokter Spesialis Jantung
Eka Hospital BSD


(ADV)


(TIN)