BPA dalam Botol Plastik Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 22 Aug 2017 12:55 WIB
kesehatan
BPA dalam Botol Plastik Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung
Sebuah studi menemukan bahwa kandungan Bisphenol-A (BPA) yang tinggi, sebuah kandungan kimia yang terdapat dalam botol minum, dapat menyebabkan penyempitan urat nadi (arteri). (Foto: Autri Taheri/Unsplash.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Tak sedikit orang yang minum dari botol plastik supaya lebih efisien dalam beraktivitas tanpa mengalami dehidrasi. Namun tahukah Anda bahwa botol penyimpan tersebut berbahaya?

Sebuah studi menemukan bahwa kandungan Bisphenol-A (BPA) yang tinggi, sebuah kandungan kimia yang terdapat dalam botol minum, dapat menyebabkan penyempitan urat nadi (arteri) dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

"Studi kami menguatkan bukti bahwa BPA dapat meningkatkan risiko penyakit jantung," tukas peneliti David Melzer.



Tim yang dipimpin oleh Melzer dari PCMD dan University of Cambridge tersebut menganalisa data dari 591 pasien yang tergabung dalam studi Penyakit Arteri Koroner Genomik dan Metabonomik (MaGiCAD) di Cambridge.

(Baca juga: Waspadai Botol Minum Daur Ulang)

Pasien dibagi dalam tiga jenis tingkat keparahan, yaitu penyakit arteri koroner (CAD) parah, sedang, dan normal; yang berdasarkan penyempitan arteri koroner, dimana hal tersebut mempengaruhi penyaluran darah kaya oksigen ke otot jantung (myocardium).

Sebanyak 385 pasien diidentifikasi memiliki CAD parah, 86 CAD sedang, dan 120 memiliki arteri koroner normal. Arteri koroner adalah pembuluh yang mengalirkan darah kaya oksigen pada myocardium.

Studi tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi dari BPA, sebuah kimia kontroversial yang banyak digunakan pada kemasan makanan dan minuman, secara signifikan lebih banyak terlihat pada pasien CAD parah dibandingkan dengan pasien CAD normal.

Menurut studi PCMD tahun 2008, banyak negara mulai melarang penggunaan BPA dari barang-barang untuk bayi dan peralatan makan lainnya.



BPA umumnya digunakan pada produk plastik polykarbonat seperti botol minum yang bisa diisi ulang, peralatan makan plastik, dan produk keseharian lainnya.

Studi lain menyebutkan bahwa bahan kimia tersebut dapat mempengaruhi fungsi hormon testosterone pada tubuh.

"Hasil penelitian ini penting untuk lebih mengerti mekanisme hubungan antara BPA dan penyakit jantung," tukas Tamara Galloway selaku asisten peneliti dari Exeter.











(TIN)