Mengapa Orang Terkenal Rentan Bunuh Diri?

Yatin Suleha    •    Jumat, 21 Jul 2017 15:27 WIB
psikologi
Mengapa Orang Terkenal Rentan Bunuh Diri?
Dr. Vivencio menambahkan bahwa interaksi sosial orang terkenal menjadi terbatas. Dan orang tersebut pun membatasi mobilitasnya. (Foto: Wehearit/Yourtango.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Masih hangat dalam pemberitaan Chester Bennington, (41) meninggal karena bunuh diri. Chester merupakan vokalis band ternama Linkin Park kelahiran Phoenix, Arizona, Amerika. Chester diduga mengalami depresi, dan mengakhiri hidupnya di kediaman pribadinya di Palos Verdes Estate di Los Angeles pada Kamis, 20 Juli 2017 waktu setempat.

Dr. Vivencio (Ven) Ballano seorang pofesor sosiologi dari Polytechnic University of the Philippines mengatakan bahwa terkadang menjadi terkenal memiliki ikatan komunal yang lemah dengan lingkaran teman dan kerabatnya sendiri. 

Seiring bertambahnya popularitas seseorang, ia kehilangan kerahasiaan dan kemampuannya untuk bergaul dan berinteraksi dengan orang biasa, yang mengakibatkan isolasi sosial semakin meningkat. 

Interaksi orang terkenal

"Orang yang populer biasanya ditempatkan tersendiri oleh pengikut dan penggemar dengan bantuan media sosial dan digital yang memberikan status selebriti kepadanya," tegas Dr. Vivencio.

Dr. Vivencio menambahkan bahwa interaksi sosialnya menjadi terbatas. Dan orang tersebut pun membatasi mobilitasnya. "Orang terkenal tidak bisa bergerak tanpa dikerumuni oleh fans," ucap Dr. Vivencio.



Jadi, ada kecenderungan orang yang ternama tersebut lebih suka berinteraksi terutama dengan orang-orang yang memiliki posisi sosial yang sama-entah itu sama strata sosialnya, berkuasa, tapi tidak dengan orang biasa.

(Baca juga: Alasan Utama Mengapa Seseorang Ingin Bunuh Diri)

"Pengikut dan penggemar yang memuja akan memandang orang terkenal dengan kekaguman dan pujian-sebagai idola, pahlawan, dan panutan, menjadikan mereka manusia super dan istimewa dari kerumunan orang lain," tukas Dr. Vivencio.

Dan karena masyarakat memiliki stratifikasi sosial yang menglasifikasikan orang sesuai dengan jumlah kekayaan dan tingkat status sosial, selebritas karenanya tidak memiliki pilihan selain berinteraksi lebih sering dengan orang-orang yang serupa atau dengan lingkaran kerabat dan teman mereka sendiri untuk dukungan sosial dan ikatannya. 

Dan jika mereka memiliki keluarga dan kelompok sosial yang disfungsional, orang yang terkenal tergoda untuk menggunakan metode paliatif (merawat diri) dengan obat terlarang, obat tidur, atau alkohol untuk sementara melarikan diri dari masalah pribadinya. Dan isolasi tersebut membuat risiko bunuh diri bisa meningkat.

Kesuksesan dan ketenaran bukan jaminan

Senada dengan Dr. Vivencio, psikolog anak, remaja dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Universitas Kristen Maranatha, Bandung juga mengungkapkan, bahwa kesuksesan bukanlah hal yang bisa membuat seseorang kebal terhadap rasa depresi dan keinginan untuk mengakhiri hidup.

"Sebagian besar orang mengira kesuksesan membawa kebahagiaan, padahal tidaklah demikian. Karena bisa saja yang bersangkutan sudah melewati banyak luka batin dan trauma dalam hidup yang tidak diketahui publik. Secara finansial mereka mapan. Tapi secara affection, mereka merasa kosong," ucap Efnie.

"Jika hal ini terus ada dan tidak ditangani oleh ahlinya, maka akan memunculkan simptom depresi yang awalnya ringan, namun lama kelamaan bisa berefek pada suicide (bunuh diri). Jadi, dapat disimpulkan mereka mapan secara finansial tapi tidak memiliki psychological well being," tutup Efnie.



(Ratu Tiara Sari)






(TIN)