Pentingnya Pemeriksaan Celah Bibir dan Langit-langit Mulut untuk Jaga Kepercyaan Diri Anak

   •    Jumat, 09 Feb 2018 19:21 WIB
perkembangan anak
Pentingnya Pemeriksaan Celah Bibir dan Langit-langit Mulut untuk Jaga Kepercyaan Diri Anak
1 dari 600 anak di Indonesia menderita kelainan celah bibir dan langit-langit mulut (CBL), atau lebih dikenal bibir sumbing. (Foto: Ilustrasi. Dok. Allie Milot/Unsplash.com)

Tangerang: 1 dari 600 anak di Indonesia menderita kelainan celah bibir dan langit-langit mulut (CBL), atau lebih dikenal bibir sumbing. Kondisi ini merupakan kondisi bawaan yang menyebabkan kelainan atau ketidaksempurnaan pada struktur bibir yang baru bisa terlihat setelah bayi dilahirkan. 

Dokter spesialis bedah mulut dan maksilofasial-konsultan dari tim Cleft Center Siloam Hospital Lippo Village, Andi S Budihardja menerangkan, seorang bayi dikatakan mengalami kelainan bibir sumbing jika terlahir dengan celah bibir di atas. 

Celah ini, lanjut Andi bisa terjadi hanya pada bagian bibir saja ataupun pada bagian gusi dan tulang rahang. 

“Pada sebagian bayi celah ini meliputi seluruh bagian bibir (complete cleft). Sedangkan sebagian bayi lainnya celah ini hanya meliputi sebagian bibir saja (incomplete cleft). Jika celah hanya pada satu sisi bibir dikatakan sebagai celah bibir satu sisi (unilateral), sedangkan jika terdapat pada dua sisi dikatakan sebagai celah bilateral. Di Indonesia kelainan ini terjadi pada 1 dari 600 anak,” terang Andi Budhi, Kamis 8 Februari 2018 lalu usai meresmikan pembukaan Klinik Bibir Sumbing (Siloam Cleft Center) di Siloam Hospital Lippo Village. 

(Baca juga: Melahirkan Bayi dengan CBL, Kami Semakin Solid)

Fase CBL

Dia menyebutkan, jika tak segera ditangani secara tepat dan cepat, kelainan celah bibir ini bisa mengakibatkan masalah serius pada tahap perkembangan anak di fase-fase selanjutnya. 

“Pada fase awal bayi akan mengalami kesulitan saat minum susu, sehingga seringkali mengakibatkan malnutrisi dan dapat berakibat pada gangguan tumbuh kembang bayi,” ucap dia.

Selanjutnya, saat bayi menginjak usia satu tahun, bayi akan masuk pada fase awal untuk bicara yang sering disebut sebagai fase Bubbling. 

“Celah langit-langit yang tidak ditangani secara cepat dan tepat akan mengakibatkan gangguan bicara (suara terdengar sengau), yang sangat sulit untuk diterapi dikemudian hari,” ungkap Andi. 

Selain itu, lanjut Andi stigma di masyarakat dan gangguan psikologis anak juga akan terganggu apabila kelainan ini tidak ditangani secara tepat. 

“Terutama sekali saat anak masuk dalam pendidikan dasar,” ucap dia. Untuk itu, dia mengingatkan untuk segera melakukan pemeriksaan medis, jika menemukan adanya kelainan celah bibir pada anak yang baru dilahirkan. 

“Pada dasarnya kelainan ini bisa diatasi, sehingga fase tumbuh kembang anak bisa berjalan optimal,” kata dia. 

CBL pada Zakiyah Arsyifa

Seperti yang dialami Zakiyah Arsyifa, 5, warga Sepatan, Kelurahan Pondok Jaya, Kabupaten Tangerang, ini akhirnya bisa kembali normal. Setelah menjalani pengobatan secara disiplin seperti yang dianjurkan dokter.

Ibunya, Nur Rodiyah, 34, menerangkan, bahwa putrinya itu pada awal masa kelahiran sempat kesulitan menerima asupan susu yang diberikan. Saat itu, dia juga cemas untuk merawat bayi bisa tumbuh dengan baik. 

“Waktu itu untungnya ada wartawan yang mengetahui kondisi anak saya, kemudian dari Puskesmas, Dinas Kesehatan sampai pak Bupati turun melihat, mereka menjanjikan pengobatan buat putri saya, dan setelah beberapa kali operasi alhamdulillah anak saya, bisa normal,” terangnya. 

Pada awalnya, Arsyifa sangat kesulitan untuk menerima asupan susu, baik itu langsung melalui ibunya atau dengan botol. 

“Setiap kali menyusu itu engga pernah masuk ke mulut, air susunya malah turun ke mata, wah pokonya perjuangan banget waktu itu,” kenang dia. 




Farhan Mudier






(TIN)