Kurang Tidur Turunkan Kinerja Sel Otak

Cecylia Rura    •    Kamis, 09 Nov 2017 12:34 WIB
studi kesehatan
Kurang Tidur Turunkan Kinerja Sel Otak
(foto: shutterstock)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kurang tidur menjadi salah satu penyebab tubuh Anda tidak fit dan lesu. Hal ini, terjadi karena kinerja sel-sel otak ikut menurun. Sebuah penelitian mengungkapkan, ketika sel-sel otak merasa lelah, Anda cenderung menjadi pelupa dan sangat mudah terganggu oleh hal-hal kecil, dilansir dari laman Live Science.

Dalam penelitian tersebut peneliti juga memaparkan, kurang tidur membuat sel dalam otak sulit untuk berkomunikasi secara efektif. Hingga pada gilirannya bekerja, dapat menyebabkan penyimpangan mental sesaat yang memengaruhi memori dan persepsi visual.

Dengan kata lain, temuan tersebut menjadi petunjuk mengapa kurang tidur dapat menyebabkan seseorang sulit berpikir dan berkonsentrasi di hari berikutnya.

"Kami menemukan bahwa tubuh yang kurang istirahat dapat merampas kemampuan neuron untuk berfungsi dengan baik," ungkap Dr Itzhak Fried, profesor bedah saraf di University of California, Los Angeles (UCLA). Ia melanjutkan, ini bisa menjadi sebuah penyimpangan kognitif, di mana kita memandang dan bereaksi terhadap dunia sekitar kita saat berada dalam kondisi tersebut.

Untuk mempelajari efek dari kurang tidur, para peneliti mengundang 12 pasien epilepsi yang telah dipersiapkan untuk menjalani operasi, namun tidak terkait dengan kegiatan penelitian ini. Peneliti memasukkan elektroda ke dalam otak mereka, di mana elektroda ini memungkinkan para peneliti memantau ratusan sel otak per individu.

Mereka yang berada dalam penelitian tersebut harus tinggal diam sepanjang malam. Selama masa penelitian, peneliti mengukur aktivitas otak para peserta saat mereka melakukan aktivitas tertentu. Contohnya, ketika pasien diminta untuk mengkategorikan berbagai gambar wajah, tempat, dan hewan secepat mungkin. Setiap gambar menyebabkan sel di area otak menghasilkan pola aktivitas elektrik yang khas. Secara khusus, para peneliti memusatkan perhatian pada aktivitas sel di lobus temporal, yang mengatur persepsi dan ingatan secara visual.

Hasilnya, peneliti menemukan ketika pasien merasa lelah, mereka semakin tertantang untuk mengkategorikan gambar, sementara sel otak mulai melambat.

"Kami cukup terkejut saat mengamati bagaimana aktivitas sel otak menurun pada seseorang yang kurang tidur," ungkap Yuval Nir, salah seorang peneliti khusus di Tel Aviv University, Israel. "Tak seperti reaksi cepat yang biasa diberikan, neuron merespons dengan perlahan, dipaksa untuk tetap bekerja, dan transmisi mereka bertahan dari waktu yang biasanya."

Selain itu, mereka juga menemukan bahwa kurang tidur dapat memberi pengaruh besar di beberapa area pada otak. Aktivitas di sekitar area otak mengalami penurunan.

"Fenomena ini menunjukkan, daerah-daerah tertentu di otak pada pasien yang tertidur menyebabkan penyimpangan mental, sementara sel otak lainnya terbangun dan berjalan seperti biasa," papar Fried.

Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa kurang tidur dapat mengganggu kemampuan neuron di otak untuk memberikan kode informasi dan menerjemahkan input informasi visual ke dalam pemikiran ketika seseorang dalam keadaan sadar.

Sebagai contoh, ketika seorang pengemudi yang kurang tidur melihat seorang pejalan kaki melangkah di depan kendaraannya, ia perlu waktu lebih lama untuk menyadari keberadaan orang tersebut. Peneliti Nir mengungkapkan, hal ini dikarenakan melihat pejalan kaki melintas di depannya membuat otak sang pengemudi bekerja berlipat ganda.

Tak sampai di situ, para peneliti juga membandingkan kerja otak seseorang yang kurang tidur saat mengemudi dengan mereka yang mengemudi dalam keadaan mabuk.

"Kurang tidur dapat memberi pengaruh yang sama pada otak seseorang yang suka mengonsumsi alkohol hingga mabuk. Hal ini dikarenakan mereka minum terlalu banyak," kata Fried.

"Namun, hingga saat ini belum ada standar hukum atau medis yang mengidentifikasikan bahwa pengemudi yang kurang tidur sama halnya dengan pengemudi yang menyetir dalam keadaan mabuk," terangnya.

Melansir laman Live Science, penelitian ini dipublikasikan pada 6 November 2017 lalu dalam sebuah jurnal Nature Medicine.





(DEV)