Bipolar Disorder Bukan Gangguan Suasana Hati Biasa

   •    Rabu, 15 Nov 2017 17:27 WIB
kesehatan mental
Bipolar Disorder Bukan Gangguan Suasana Hati Biasa
Ilustrasi. (Thinkstock)

Jakarta: 2014 silam publik sempat dihebohkan oleh aktris Marshanda yang mengunggah videonya ketika meracau tentang masa lalunya. Setelah diketahui, rupanya pemeran Lala dalam sinetron Bidadari itu didiagnosis mengalami gangguan bipolar.

Lalu apa sebenarnya bipolar itu? Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Yossy Agustanti mengatakan bipolar adalah gangguan suasana perasaan yang pusatnya berada di otak. Sama seperti gangguan jiwa pada umumnya, bipolar terjadi ketika kimia dalam otak tidak stabil.

Bipolar juga ternyata bukan hanya tentang perubahan mood atau suasana hati yang bisa terjadi tiba-tiba. Dalam kasus yang sangat berat gangguan bipolar dapat mendorong penderitanya untuk melakukan hal di luar nalar bahkan bunuh diri.

"Bipolar itu artinya ada dua kutub. Ada kalanya saat meningkat disebut episode manik yakni suasana perasaan yang meningkat, rasanya ingin bicara terus, hiperaktif, kurang waktu tidur tapi masih segar disertai dengan banyaknya ide dalam kepala," kata Yossy, dalam Newsline, Rabu 15 November 2017.

Menurut Yossy, umumnya gejala-gejala seperti hiperaktif dan munculnya ide-ide liar dalam kepala sulit dikendalikan. Terkadang ide liar yang terlintas dalam kepala penderita bipolar adalah melakukan hal yang oleh orang lain tidak akan dilakukan dalam keadaan sadar. Misalnya melanggar aturan atau ingin mencoba narkoba.

Keinginan untuk mencoba hal-hal membahayakan seperti mengonsumsi narkoba kerap dirasakan oleh penderita bipolar dan faktanya orang yang mengalami ketergantungan narkoba didasari oleh perilaku bipolar ketika memasuki episode manik.

Penderita bipolar juga kadang mengalami episode depresi ketika suasana hatinya tengah menurun. Indikasinya, malas untuk mengerjakan sesuatu selama lebih dari dua minggu.

Ketika suasana perasaan yang berbeda itu dialami dalam waktu lama bisa jadi hal tersebut merupakan gejala bipolar sebab intensitasnya tidak seperti gangguan suasana hati pada umumnya.

"Memang bisa satu waktu terjadi yang disebut episode campuran, bisa tiga bulan misalnya manik, tiga bulan depresi kemudian kembali ke fase normal. Suasana yang berubah-ubah itu tidak mudah dikenali, orang cenderung menyebut sedang mood atau depresi saja dan faktanya angka bunuh dirinya tinggi karena kan lelah suasana seperti tu," katanya.




(MEL)