Konsumsi Minuman Berenergi Berlebihan Sebabkan Gangguan Lever

Nia Deviyana    •    Minggu, 06 Nov 2016 12:35 WIB
informasi kesehatan
Konsumsi Minuman Berenergi Berlebihan Sebabkan Gangguan Lever
(Foto: Thinkstock)

Metrotvnews.com, Jakarta: Konsumsi minuman energi secara berlebihan ternyata bisa menyebabkan gangguan lever. Hal tersebut terjadi pada seorang pria berusia 50 tahun yang dirawat di rumah sakit dengan diagnosa hepatitis akut, yang merupakan salah satu jenis gangguan lever.

Saat ditanya, pasien mengaku mengonsumsi 4-5 kaleng minuman berenergi per hari selama tiga minggu berturut-turut.  Selama beberapa hari, ia mengaku mengalami gejala seperti sakit perut, mual, nafsu makan berkurang, dan muntah. Warna urine pria itu juga menjadi kekuningan dan pekat.

Setelah menjalani pemeriksaan, ditemukan enzim transaminase yang tinggi pada tubuh pasien yang tak ingin identitasnya diketahui itu. Artinya, ada sebuah sinyal kerusakan hati.

Setelah menjalani biopsi lebih lanjut, ternyata pasien mengalami hepatitis akut, selain juga memiliki riwayat penyakit hepatitis C kronis sebelum terjadinya hepatitis akut ini.

"Meski pasien punya riwayat hepatitis C, saya tidak melihat penyakit tersebut memicu hepatitis akutnya," ujar dokter seperti dilansir Medicalnewstoday.

Dokter justu melihat hepatitis akut tersebut terjadi akibat pasien terlalu banyak mengonsumsi vitamin B3 yang dikenal dengan niacin, kandungan yang terdapat dalam minuman berenergi.

Pasien, tambah dokter, mengonsumsi 160-200 miligram niacin per hari, dua kali dosis yang direkomendasikan dalam sehari.

Selama ini, minuman berenergi juga dikenal menyebabkan obesitas melihat kandungan gula dan kafein yang tinggi dalam tiap kalengnya. Adanya kasus ini mengingatkan kita agar lebih peduli dengan kesehatan, dengan cara memperhatikan asupan makanan yang dikonsumsi.

Di Amerika Serikat, sebagian besar minuman berenergi dikonsumsi laki-laki muda antara usia 18-43 tahun. Hampir sepertiga dari remaja berusia 12-17 tahun mengonsumsi minuman ini secara rutin, demikian data yang dipublikasikan National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH).
 


(DEV)