Studi: Aspirin Dosis Rendah Bantu Cegah Kanker Ovarium

Anggi Tondi Martaon    •    Selasa, 24 Jul 2018 13:09 WIB
studi kesehatan
Studi: Aspirin Dosis Rendah Bantu Cegah Kanker Ovarium
(Foto: Medicalnewstoday)

Jakarta: Aspirin atau asam asetilsalisilat umumnya digunakan sebagai pereda nyeri, mengurangi demam, dan merupakan obat anti-inflamasi yang dapat digunakan untuk pengencer darah. 

Dilansir dari Medical News Today, orang dengan risiko tinggi penggumpalan darah, stroke, dan serangan jantung dapat menggunakan aspirin jangka panjang dengan dosis yang rendah.  

Studi terbaru menunjukkan bahwa satu aspirin dosis rendah per hari membantu wanita terhindar dari kanker ovarium dan meningkatkan angka harapan hidup bagi mereka yang telah mengidap penyakit tersebut. 

Dr Mitchell Kramer, ahli kebidanan dan ginekologi di Rumah Sakit Huntington Northwell Health di Huntington, New York merekomendasikan aspirin 81 miligram dosis harian untuk pencegahan, dan dosis lebih sesuai anjuran dokter untuk survivor kanker ovarium.

Kanker ovarium menempati peringkat kelima penyebab kematian pada wanita, yang mana sebagian besar tak tertolong karena terlambat dideteksi. 

Menurut para peneliti, ada bukti yang menunjukkan bahwa peradangan memainkan peran dalam perkembangan kanker. Dalam hal ini, aspirin dan anti-inflamasi non-steroid seperti ibuprofen dan naproxen terbukti menurunkan risiko kanker tertentu. 

Meski demikian, apakah obat ini dapat melawan tumor ovarium?

Untuk mendapatkan jawabannya, peneliti dari Institut Kanker Nasional AS dan Pusat Kanker Moffit di Tampa mengumpulkan data dari 13 studi di seluruh dunia. Studi tersebut melibatkan 750 ribu wanita yang diwawancarai seputar penggunaan aspirin dan NSAID.

Menurut laporan yang diterbitkan di Journal of National Cancer Institute, mengonsumsi aspirin setiap hari dapat mengurangi risiko kanker ovarium hingga 10 persen.

"Hasil penelitian menunjukkan aspirin dapat mengurangi risiko kanker ovarium, tetapi studi lanjutan tetap harus dilakukan untuk menentukkan apakah obat ini dapat dikonsumsi sebagai suplemen harian," ujar Shelley Tworoger, penulis studi senior di Pusat Kanker Moffit. 

Lihat video:




(DEV)