Alasan Mengapa Lansia Cenderung Mudah Terjatuh

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 03 Aug 2018 13:34 WIB
kesehatanlansia
Alasan Mengapa Lansia Cenderung Mudah Terjatuh
Penelitian telah menunjukkan bahwa individu yang lebih tua jatuh secara berbeda dari individu yang lebih muda. (Foto: Cristina Gottardi/Unsplash.com)

Jakarta: Terjatuh adalah penyebab cedera paling umum pada lansia yang dapat memicu masalah kesehatan. Namun, pengobatan dan kesadaran akan hal risiko tersebut cenderung muncul baru setelah terjadi. 

Sebuah studi dari Inisiatif Kesehatan Wanita (NIH) ingin mencari tahu kita dapat memprediksi risiko seseorang jatuh dan tindakan pencegahan yang dapat diambil untuk mengurangi risiko ini. Analisis baru kini membuat prediksi tersebut jadi kenyataan.

Penelitian tersebut melibatkan 67 wanita berusia di atas 60 tahun untuk diuji kemampuan berjalan mereka dan ditanya tentang jumlah jatuh yang mereka alami pada tahun lalu. 

Para partisipan diminta mengenakan perangkat kecil dengan sensor gerak yang mengukur pola berjalan mereka selama satu minggu.

Mereka menemukan bahwa data yang diekstraksi secara otomatis dari perangkat dapat secara akurat memprediksi risiko partisipan terjatuh, yang diukur dengan pemeriksaan ketidakberimbangan dalam berdiri serta berjalan.


(Terjatuh adalah penyebab cedera paling umum pada lansia yang dapat memicu masalah kesehatan. Namun, pengobatan dan kesadaran akan hal risiko tersebut cenderung muncul baru setelah terjadi. Foto: Cristian Newman/Unsplash.com)

“Prediksi kami menunjukkan bahwa kami dapat dengan akurat mengetahui perbedaan antara orang-orang yang benar-benar stabil dan orang-orang yang tidak stabil dalam beberapa cara,” kata Bruce Schatz.

(Baca juga: Latihan Otot Tingkatkan Kemampuan Kognitif)

Penelitian telah menunjukkan bahwa individu yang lebih tua jatuh secara berbeda dari individu yang lebih muda. Orang yang lebih muda terjatuh jika mereka mengira atau menilai sesuatu yang salah, misalnya seperti permukaan lantai yang licin. 

Tetapi orang dewasa yang lebih tua jatuh karena tubuh mereka tidak stabil, menyebabkan mereka kehilangan keseimbangan ketika berjalan atau menjadi goyah ketika berdiri dan duduk.

Perbedaan tersebut memberi para peneliti gagasan bahwa mereka mungkin bisa mengukur ketidakstabilan ini. Perangkat yang mereka gunakan, disebut akselerometer-mampu mengukur pola berjalan pengguna dan seberapa tidak stabilnya mereka. Mereka menggabungkan pengukuran ini dengan riwayat jatuhnya individu untuk menentukan risiko jatuh di masa depan.

Mampu memprediksi risiko jatuh adalah penting karena banyak orang dewasa yang lebih tua sering tidak memperhatikan fakta bahwa mereka tidak stabil sampai setelah mereka jatuh. 


(Tetapi orang dewasa yang lebih tua jatuh karena tubuh mereka tidak stabil, menyebabkan mereka kehilangan keseimbangan ketika berjalan atau menjadi goyah ketika berdiri dan duduk. Foto: Sam Wheeler/Unsplash.com)

Tetapi jika mereka tahu mereka berisiko, mereka dapat melakukan latihan rehabilitasi untuk meningkatkan kekuatan mereka dan mengurangi kemungkinan jatuh.

Schatz melihat hasil yang sukses dari penelitian ini sebagai tanda bahwa di masa depan, perangkat yang lebih dapat dikenakan atau bahkan aplikasi gawai akan dapat mengukur pola berjalan dan memeringatkan pengguna tentang risiko jatuh mereka.

Sebagian besar ponsel saat ini sudah memiliki akselerometer, sensor yang sama yang digunakan dalam penelitian ini. Schatz membayangkan masa depan di mana setiap orang di atas 60 tahun akan memiliki aplikasi telepon yang terus merekam gerakan mereka, yang tidak perlu membuat pengguna memasukkan informasi. 

Jika pengguna berjalan menjadi tidak stabil, aplikasi tersebut dapat memberi tahu pengguna atau dokter mereka, dan mereka dapat memulai latihan pencegahan. Studi tersebut dipublikasi dalam jurnal Nature Digital Medicine.





(TIN)