Tema Khusus Rona

Pejuang Kesehatan di Perbatasan Indonesia-Malaysia

Yatin Suleha    •    Rabu, 24 Oct 2018 14:36 WIB
kisah inspiratif
Pejuang Kesehatan di Perbatasan Indonesia-Malaysia
Dr. Yanti dan staf KKP saat berada di perbatasan Jagoi Babang, Bengkayang, Kalimantan Barat dengan Serikin, Malaysia. (Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Jakarta: Area Bengkayang, Kalimantan Barat luas terbentang dengan penuhnya pepohonan. Hutan yang masih perawan penuh semak dan belukar. Beberapa terlihat pohon-pohon tinggi di pinggir-pinggir jalan yang masih bertanah. Suasana sejuk ditemani sedikit rintik hujan kala awal Oktober 2018 lalu. Lepas jalan aspal masih tersisa banyak jalanan bertanah basah. Beberapa berlubang dengan genangan air coklatnya.

Banyak juga sayup-sayup terdengar suara burung di kiri dan kanan hutan. Satu nyanyian alam yang menemani suasana teduhnya wilayah perbatasan di Jagoi Babang, Kalimantan Barat. Walau angin tak banyak menyapa namun tak membuat gundah karena suasana nyaris hening dengan hawa dinginnya.

Terlihat satu bangunan panjang mirip seperti rumah petakan sedikit saja lebih panjang berada di sisi kiri searah dengan pos perbatasan yang dijaga oleh Pasukan Pengamanan Perbatasan dari TNI yang khusus menjaga perbatasan NKRI dengan wilayah Serikin, Malaysia.

Berada di perbatasan dua negara salah satu pejuang kesehatan itu berada. Dr. Maryanti Sunindio, MHSM. Ia adalah Kasie Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah.

(Dr. Yanti makan malam bersama staf dan jajarannya. Foto: Dok. Dr. Yanti)

"Penjaga kesehatan di pintu perbatasan", ia berada di bawah naungan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP)-bagian dari Kemenkes RI.

"Jika selama ini yang kita tahu penjaga perbatasan hanya TNI atau hanya aparat keamanan saja, ternyata tak benar, karena kesehatan yang bertugas di perbatasan antara kedua negara juga ada di situ," sebut perempuan berhijab ini membuka perbincangan dengan tim Medcom.id.

Satu kaki berdiri di wilayah Indonesia, satu kaki bisa berdiri di tanah Serikin, yang merupakan kota kecil Bidayuh di Divisi Kuching, Sarawak, Malaysia. Inilah rupa salah satu perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. Pejuang kesehatan Indonesia ada di sini untuk bertugas.

(Baca juga: Kemenkes Tinjau Faskes di Perbatasan Indonesia-Malaysia)


(Dr. Yanti dan staf saat berada di perbatasan Jagoi Babang, Bengkayang, Kalimantan Barat dengan Serikin, Malaysia. Tetap bekerja dengan semangat yang tinggi bersama tim walau berada di perbatasan. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Peran KKP

Tak banyak yang tahu apa itu KKP dan apa ruang lingkupnya. Seperti yang tertuang dalam laman Depkes.go.id, tugas dan fungsi KKP adalah mencegah masuk dan keluarnya penyakit, penyakit potensial wabah (melalui kegiatan surveilans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan lingkungan).

Selain itu juga KKP melakukan pelayanan kesehatan, pengawasan Obat, Makanan, Kosmetika, Alat Kesehatan dan Bahan Adiktif (OMKABA) serta pengamanan terhadap penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali.

Selain itu bioterorisme, unsur biologi, kimia dan pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara.

Menjadi tugas dari Kementerian Kesehatan untuk membekali sumber daya manusia di KKP melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dengan kemampuan dan keterampilan yang memadai.


(Dr. Yanti memberikan paparan dalam acara sosialisasi dan deteksi dini Tuberkulosis. Foto: Dok. Dr. Yanti)

Tugas Pelayanan di Bidang Kesehatan dan Koordinasi

Terhitung sudah lima tahun dr. Yanti bertugas di KKP Pontianak sebagai Kepala Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah. Ruang lingkup kerjanya berkaitan dengan koordinasi dengan berbagai pihak.

Antara lain terdiri dari QICS-Quarantine (3 bidang karantina, karantina kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan, serta ikan) Immigration/imigrasi, Customs/bea cukai dan Securtiy/Pasukan Pengamanan Perbatasan (Paspamtas) ada Polisi serta Dinas Perhubungan.

"Dalam mengamankan NKRI ada banyak yang saling terkait untuk menjaganya," ucapnya sambil menyeruput teh hangat.

Ia sebutkan antara lain tugas koordinasi yang dilakukan adalah dengan Badan Penanggulangan TKI, Administrator PLBN (Pos Lintas Batas Negara), Administrator Bandara, Bea Cukai, Imigrasi, dan Karantina yang lainnya seperti Karantina Pertanian.

"Koordinasinya banyak," tambahnya lagi. Termasuk juga vaksinasi Meningitis bagi mereka yang akan umroh yang dilakukan di kantor induknya, tepatnya di Kabupaten Kubu Raya. "Kami bisa melayani 10 ribu orang untuk vaksinasi ini setiap tahunnya," ungkap dr. Yanti.


(Salah satu perbatasan yang tampak megah, Badau Indonesia dengan Malaysia. Foto: Dok. Dr. Yanti)

Suka Duka Petugas KKP

Di pintu paling depan perbatasan negara dalam hal kesehatan, dr. Yanti beserta jajarannya juga tak luput dari kisah yang haru dan pilu. "Terutama TKI, sekarang namanya Pekerja Migran Indonesia (PMI)," katanya.

Pekerja ilegal terutama menurut dr. Yanti yang pernah ia temui dalam kondisi yang mengharukan. "Kalau yang legal sakit biasanya kami bantu urus surat rujukannya. Tapi mereka biasanya diurusin sama Badan Penanggulangan TKI. Nah, kalau yang ilegal, kami total yang mengurusinya dalam hal rujukan sampai proses pendampingan di rumah sakit pada saat awal masuknya," papar dokter yang punya 9 wilayah kerja ini.

Salah satu cerita yang paling mengharukan menurut dr. Yanti adalah sekeluarga ilegal. Iya, Anda tidak salah baca, satu keluarga ilegal. Singkat cerita, seorang anak laki-laki ini pernah dibawa oleh pamannya ke Malaysia. Besar, dewasa, dan menikah dengan perempuan Malaysia kemudian dikaruniai 3 orang anak.

"Saat itu istrinya sakit, sehabis melahirkan diperiksa rupanya TBC, HIV positif. Dicek suaminya juga HIV positif juga, namun yang bayi belum bisa terdiagnosa karena hanya pakai rapid test," tukas dr. Yanti.


(Petugas yang memeriksa kondisi orang yang melintas antara Indonesia dengan Malaysia. Foto: Dok. Dr. Yanti)

Setelah itu lanjut dr. Yanti oleh pemerintah Malaysia memulangkan mereka sekeluarga ke Indonesia. Kepulangan ini dilakukan karena menurut si suami mengaku ia lahir di Indonesia. Namun kondisi keluarga ini tak beridentitas baik Malaysia maupun Indonesia.

"Saat itu tidak tahulah bisa begitu. Tapi karena begitu ditanya di mana ia lahir, ia bilang di Indonesia maka dipulangkanlah ke Indonesia. Walau sudah puluhan tahun di Malaysia. Setelah itu dibuatkanlah pass khusus Indonesia, dan kamilah yang menjemputnya," kenang dr. Yanti.

Langkah selanjutnya adalah perujukan ke RS Umum Daerah Dokter Soedarso, di Kalimantan Barat. "Istrinya mendapatkan pengobatan lanjutan, lalu suami serta anak-anaknya ditampung di Dinas Sosial," papar dr. Yanti. "Dan saat ini sekeluarga tersebut sudah dipulangkan ke Sulawesi oleh Dinas Sosial melalui kapal laut," tambah dokter yang ramah ini.

Ada juga aku dr. Yanti seorang PMI yang ditemui oleh salah satu orang Indonesia di daerah Malaysia yang ditemui di jalan menuju perbatasan Malaysia-Indonesia dalam kondisi yang mengenaskan.

"Kondisinya telantar, diajak naik ke taksinya (orang yang ingin melalui perbatasan). Dicurigai sakit pas dalam taksi lalu diperiksa dan KMD dirujuk dengan menggunakan ambulans KKP," papar dr. Yanti sambil memperlihatkan foto orang tersebut dengan tubuhnya yang kurus kering dan pucat. Dan benar saja kondisinya TB dan HIV.

"Selain itu ada juga yang TB MDR (Multiple Drug Resistance) kami dapat info dari KJRI Kuching. Diantar orang konsulat ke perbatasaan. Kondisinya langsung dirujuk," kenang dr. Yanti.

(Pendampingan yang dilakukan oleh KKP di perbatasan. Foto: Dok. Dr. Yanti)


Tak hanya itu, ada juga yang menderita gangguan jiwa. "Tahun ini ada 2. Kalau ada pasien dengan gangguan jiwa kita tunjuk ke RS yang ada di Provinsi Kalimantan Barat," ungkapnya yang masih sedikit terkendala soal rujukan tersebut. 

Pagi, siang terik, malam terkadang ditambah dengan sulitnya sinyal telepon di perbatasan, belum lagi harga makanan yang cenderung mahal, pendampingan yang ia serta jajaran stafnya lakukan bisa memakan waktu berjam-jam tetap dilakukan. "Demi NKRI," katanya singkat.

Contohnya mendampingi sejak awal, memasukkannya ke dalam ambulans, serta perjalanan yang bisa memakan waktu lima jam dari perbatasan menuju rumah sakit tetap dilakukan sebagai bakti bagi tugasnya untuk mengamankan Indonesia dari berbagai penyakit yang bisa saja masuk.


(Dr. Yanti sedang memberikan pengarahan pada stafnya. Foto: Dok. Dr. Yanti)

Ciri-ciri Pekerja Ilegal

Berbicara soal legal dan ilegal bagi PMI adalah sesuatu yang menggiurkan. Embel-embel bekerja di luar negeri judulnya, sedikit banyak bisa jadi prestise.

Dan, sudah barang tentu mengurus pekerjaan legal untuk bekerja di luar negeri sedikit membutuhkan waktu dan tenaga, tapi dr. Yanti menegaskan hal itu akan jauh lebih baik. "Lebih terjamin semuanya," tambah jebolan S2 dari Monash University, Australia ini.

"Karena kalau ilegal, dijanjikan pekerjaannya apa, tiba-tiba siapa yang tahu di sana malah dipekerjakan jadi PSK misalnya. Di rumah bordil jadi tertular HIV," tambahnya.

Kalau sudah begitu, papar dr. Yanti penting untuk mengetahui ciri-ciri pekerja ilegal (PMI yang ilegal).

Seseorang bisa dikatakan ilegal antara lain, "Awalnya legal lalu habis (kontrak atau masa kerjanya) diteruskan tanpa perizinan lagi, jadi ilegal. Atau pakai visa turis pelancong tapi di sana cari kerja. Kalau sudah di sana (Malaysia) baru dibuatkan visa untuk bekerja oleh perusahaannya apakah itu legal? Ilegal juga," ucap dr. Yanti.

"Yang namanya ilegal adalah bekerja di luar negeri tanpa Kartu Tanda Bekerja di Luar Negeri (KTKLN). Kalau KTKLN pasti di dalam negeri, enggak ada di luar negeri," tukas ibu satu anak ini menerangkan.

Lalu terbersit tanya, bagaimana jika kondisi PMI pulang dalam keadaan meninggal dunia? "KKP wajib memeriksa bahwa jenazah itu tidak membawa penyakit menular, kemasannya standar peti kedap dan tidak ada kebocoran dan sudah diformalin. SOP pemeriksaan jenazah sama tidak dibedakan antara ilegal atau legal," ucap dokter yang mengawali kariernya di LSM internasional ini.

Jadi pesan terakhir dr. Yanti bagi siapa pun yang ingin menyeberang pergi ke negeri tetangga adalah, "Kalau ke luar (negeri) dalam keadaan sehat, kalau masuk jangan bawa penyakit," tutupnya sambil mengabiskan lagi dessert di tempat makan.




(TIN)