Studi: Tes Mata Mampu Mendeteksi Parkinson

Nia Deviyana    •    Senin, 22 Aug 2016 13:18 WIB
studi kesehatan
Studi: Tes Mata Mampu Mendeteksi Parkinson
(Foto: Wikimedia)

Metrotvnews.com, Jakarta: Tes mata non invasif ternyata dapat mendeteksi penyakit parkinson sebelum terjadi gejala seperti tremor dan berkembangnya kekakuan otot.

Para peneliti di UCL Institute of Ophthalmology menemukan menemukan metode terbaru untuk mengamati perubahan retina pada penderita parkinson dengan teknik pencitraan menggunakan instrumen ophthalmic yang sering digunakan dokter mata.

Metode yang diterbitkan dalam Jurnal Acta Neuropathologica Communication ini dapat menjadi langkah utama diagnosa parkinson, serta mengetahui respons pasien terhadap pengobatan.

Teknik ini sebelumnya telah diuji coba pada pasien glaukoma dan alzheimer.

"Hal ini merupakan terobosan revolusioner dalam diagnosis dini," kata Profesor Francesca Cordeiro, Profesor di Departemen Glaukoma & Studi Neurodegenerasi Retina, UCL seperti dilansir Medicalnewstoday.

"Dengan adanya tes ini, penyakit bisa didiagnosa lebih awal, sehingga pengobatan menjadi lebih efektif," lanjutnya.

Parkinson memengaruhi 1 dari 500 orang, dan menempati urutan kedua penyakit neurodegeneratif yang paling banyak di derita penduduk di dunia.

Parkinson menyerang sel saraf di bagian otak, bernama basal ganglia. Sel saraf ini berfungsi mengontrol otak.

Akibatnya, tubuh penderita parkinson menjadi kekurangan dopamin, neurotransmitter yang berfungsi memberi sinyal ke sel untuk mengontrol gerakan tubuh. Hal itu menyebabkan tubuh penderita parkinson seringkali bergerak dan bergetar tak terkendali (tremor).

Pada tingkat lanjut, tremor menjalar ke seluruh bagian tubuh. Gejala parkinson ditandai gerakan tubuh lamban, kaku pada tubuh, keseimbangan berkurang sehingga mudah jatuh, serta berjalan cepat namun langkah kaki kecil.

Parkinson juga mengganggu gerakan non-motorik penderitanya. Menimbulkan perasaan depresi, cemas, dan gampang marah. Gangguan kepribadian pun tak jarang dialami penderita.

Parkinson juga memengaruhi pola tidur penderita. Biasanya, penderita akan sulit tidur pada malam hari, namun terlelap pada siang hari. Begitu pun saat mereka berganti posisi tidur, biasanya akan terasa pusing.

Penyakit ini umumnya menyerang orang berusia 60 ke atas. Namun, kini parkinson mulai menyerang orang berusia di bawah 60 tahun. Tercatat, 4 persen penderita berusia 50-an.


(DEV)