8 Risiko Mengintai Bayi yang Lahir Prematur

Sri Yanti Nainggolan    •    Minggu, 24 Apr 2016 07:04 WIB
kesehatan anak
8 Risiko Mengintai Bayi yang Lahir Prematur
(Foto: Creepercrawlers.com)

Metrotvnews,.com, Jakarta: Bayi disebut lahir normal jika ibu melahirkan pada usia 39 minggu-40 minggu. Jika kurang dari itu, maka bayi disebut lahir dengan kondisi prematur.

Berbeda dengan bayi yang lahir normal, bayi yang lahir prematur harus mendapat perhatian intensif. Sebab, ada kemungkinan perkembangan fisik dan mentalnya tidak terbentuk secara sempurna. 

Dilansir Boldsky, sedikitnya ada delapan risiko kesehatan yang mengintai bayi yang lahir prematur.

1. Kesulitan bernapas

Banyak kasus bayi prematur yang mengalami kesulitan bernapas lantaran sistem pernapasan mereka belum berkembang secara sempurna saat lahir. Kondisi tersebut harus terus dipantau orang tua guna menghindari masalah kesehatan yang lebih serius.

2. Tekanan darah rendah

Pembuluh darah yang tidak cukup kuat untuk menopang aliran darah normal dapat memberi dampak pada berbagai masalah jantung, mengakibatkan tekanan darah rendah.

3. Gangguan darah

Berbagai kondisi seperti anemia, penyakit kuning umum diderita bayi prematur. Sebab, saat lahir, sel darah merah umumnya belum berkembang secara sempurna. 

4. Metabolisme abnormal

Sistem metabolisme bayi prematur umumnya lambat. Alhasil, produksi hormon juga menjadi tak wajar.

5. Cerebral Palsy

Cerebral palsy adalah penyakit neuro-psikologis serius, yang memengaruhi pergerakan otot. Bayi prematur cenderung terkena penyakit ini karena memiliki aliran darah tak normal dan sistem syaraf yang masih dibawah perkembangan.

6. Sistem kekebalan tubuh yang lemah

Karena berlum berkembang sepenuhnya, bayi prematur umumnya memiliki sistem imun yang lemah sehingga rentan terkena penyakit.

7. Masalah pendengaran dan pengelihatan

Karena kedua bagian ini belum berkembang secara sempurna, orangtua harus rutin memeriksakan organ ini dan terus memantau perkembangannya. 

8. Gangguan perilaku

Beberapa gangguan perilaku seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan kurangnya keterampilan kognitif rentan terjadi pada anak prematur karena sistem saraf yang berlum berkembang seutuhnya.



(DEV)