Survei: Mengunjungi Salon Menyebabkan Gangguan Kesehatan

Anggi Tondi Martaon    •    Kamis, 28 Dec 2017 13:02 WIB
kesehatangaya
Survei: Mengunjungi Salon Menyebabkan Gangguan Kesehatan
Dilansir dari Webmd.com, diungkapkan bahwa beberapa produk dalam salon bisa saja menyebabkan reaksi alergi dan iritasi kulit . (Foto: Shari Sirotnak/Unsplash.com)

Jakarta: Mengunjungi salon menjadi salah satu cara yang dilakukan oleh sebagian besar orang untuk merawat penampilan agar terlihat tetap menarik. Namun, siapa sangka ternyata cara ini justru bisa membuat Anda terkena penyakit.

Menurut sebuah survei kecil yang dilakukan oleh Rutgers School of Public Health di Piscataway, New Jersey, lebih dari dua pertiga pengunjung mengeluh mengalami gangguan kesehatan setelah melakukan perawatan kecantikan. Gangguan kesehatan yang dimaksud yaitu masalah kulit, infeksi jamur, dan gejala pernafasan.

"Ketika sampai pada keselamatan, hal yang paling penting adalah menyadari bahaya yang ada di salon," kata Lindsey Milich, penulis utama seorang analis riset di Rutgers School of Public Health di Piscataway, N.J.

Milich menjelaskan alasan orang mengalami gangguan kesehatan paska melakukan perawatan kecantikan di salon karena layanan manikur, pedikur, penerapan kuku buatan, penata dan pewarnaan rambut mengandung bahan kimia berbahaya. Dilansir dari Webmd.com, diungkapkan bahwa beberapa produk tersebut bisa saja menyebabkan reaksi alergi dan iritasi kulit.

"Selain itu, karena banyak alat yang digunakan kembali dari satu klien ke klien lainnya, mungkin saja kita mengambil infeksi bakteri dan jamur dari orang lain jika teknik sterilisasi tak tepat," ungkap dia.

Milich menjelaskan, pihaknya melakukan survei kepada 90 pelanggan salon kuku dan rambut di tiga kawasan di New Jersey. Peserta ditanya tentang gejala kesehatan serta pengetahuan mereka tentang bahaya potensial dan praktik keselamatan di salon.

Sekitar 42 persen mereka mengalami masalah kulit dan 10 persen melaporkan infeksi jamur setelah kunjungan salon. Masalah ini termasuk rasa gatal pada tangan atau wajah, luka, rasa terbakar atau kesemutan. Satu dari 6 peserta survei melaporkan gejala pernapasan, termasuk pilek, gatal atau mata berair, susah bernapas dan sakit kepala.


(Meskipun dalam studi mengatakan bahwa terdapat gangguan kesehatan, namun peneliti Milich menyebutkan bahwa penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa permasalahan ini disebabkan oleh salon. Foto: NeONBRAND/Unsplash.com)

(Baca juga: Solusi Instan Mempercantik Diri)

Selain itu, permasalahan kesehatan lebih banyak dirasakan oleh peserta yang mengunjungi salon kuku daripada salon rambut. Adapun permasalahan yang dirasakan oleh responden yaitu rasa sakit atau kemerahan di sekitar area kuku, jamur pada jari atau kuku kaki dan perubahan warna kuku.

Meskipun terdapat gangguan kesehatan, namun Milich menyebutkan bahwa penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa permasalahan ini disebabkan oleh salon.

Lalu, apa yang harus dilakukan?

Bagi Anda yang sering ke salon, pertama kali periksa apakah salon itu tampak bersih. "Juga periksa apakah salon itu benar-benar membersihkan alat rambut atau kuku yang digunakan kembali dari klien ke klien," saran Milich.

Sementara itu, Dr Debra Spicehandler, kepala penyakit menular di Rumah Sakit Northern Westchester di Mount Kisco, N.Y, menambahkan bahwa Anda juga harus memastikan bahwa peralatan tersebut disterilkan dalam otoklaf, alat yang membunuh bakteri dan terlihat seperti oven kecil. Atau, setidaknya menggunakan alkohol.

"Jika mereka hanya menggunakan alat-alat kimia, itu tidak cukup," kata Spicehandler yang tidak terlibat dalam studi tersebut.

Dia juga merekomendasikan agar masyarakat untuk pergi ke salon kuku yang menggunakan liner plastik bekas di alas kaki yang digunakan untuk pedikur.

Jika Anda mengalami cedera saat memotong, segera bersihkan dengan baik dan oleskan salep antibiotik ke luka. "Jika Anda melihat ada pembengkakan atau kemerahan di tempat pemotongan, atau Anda mengalami luka ada baiknya menemui dokter Anda," katanya. Studi yang melibatkan klien salon diterbitkan dalam Journal of Chemical Health and Safety edisi November/Desember. 










(TIN)