Stres Meningkatkan Risiko Keguguran

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 02 Sep 2017 18:40 WIB
kehamilanstres
Stres Meningkatkan Risiko Keguguran
Stres Meningkatkan Risiko Keguguran (Foto: gettyimages)

Metrotvnews.com, Jakarta: Beberapa studi menyimpulkan bahwa wanita yang mengalami masalah psikologi stres memiliki risiko keguguran lebih besar.

Para peneliti dari berbagai universitas di Inggris dan Tiongkok menemukan bahwa wanita yang memiliki riwayat gangguan emosional tersebut memiliki peningkatan risiko keguguran hingga 42 persen.

Sebuah tim penelitian melihat pada delapan studi yang mengikutsertakan peserta yang pernah dan belum pernah mengalami stres psikologis.

Mereka menemukan bahwa wanita yang memiliki riwayat stres terkait uang, ketidakpuasan dalam pernikahan, tekanan pekerjaan atau penekan psikologis lainnya cenderung mengalami keguguran.

Meski belum bisa menyebutkan alasannya, para peneliti percata bahwa hormon stres dapat membahayakan jalur biokimia yang membantu tubuh wanita mengatur kehamilan sehat.

"Sementara kelainan kromosom mendasari banyak kasus keguguran, hasil meta analisis ini mendukung bukti bahwa tingkat stres psikologis yang tinggi sebelum dan selama kehamilan juga terkait dengan keguguran, hasil saat ini menunjukkan bahwa faktor psikologis ini dapat meningkatkan risiko sekitar 42 persen," kata rekan penulis studi Dr. Brenda Todd of City dari University of London.

Ia menambahkan, hasil penelitian tersebut juga menggarisbawahi perlunya memasukkan penilaian psikologis terstruktur di awal kehamilan dalam perawatan antenatal rutin.

Menurut American Congress of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), sekitar 10 persen kehamilan yang diketahui dapat berakibat pada keguguran, meskipun banyak profesional medis percaya bahwa perkiraan ini terlalu rendah.

"Bahkan keguguran tersebut terjadi sebelum para wanita menyadari mereka hamil. Ini adalah hal umum dimana sepertiga wanita di dunia bisa mengalaminya," tukas Dr. Sarah Prager, MD, profesor obstetri dan ginekologi di University of Washington School of Medicine di Seattle.

ACOG menjelaskan bahwa sekitar setengah dari keguguran bersifat acak dan terjadi karena embrio tidak memiliki jumlah kromosom yang khas. Hal tersebut membuat janin tak berkembang secara normal sehingga terjadi keguguran.

Beberapa wanita mungkin khawatir hal tersebut terjadi karena mereka melakukan beberapa hal yang memicu keguguran, seperti berolahraga atau berhubungan seks, tapi ternyata tak benar. Rokok dan alkohol dapat meningkatkan risiko, namun beberapa penelitian juga tak yakin dengan penemuan tersebut.

Usia memang tampak menjadi faktor, karena kemungkinan mengalami keguguran lebih tinggi pada wanita berusia 40 tahun ke atas.

Banyak yang percaya bahwa memiliki keguguran membuat sulit untuk hamil nanti, namun ACOG mengatakan bahwa kemungkinan berovulasi dapat kembali normal setelah dua minggu mengalami keguguran.

"Risiko keguguran di kemudian hari meningkat jika seorang wanita telah mengalami dua kali atau lebih keguguran," tambah Prager.


(ELG)