Kendala dalam Penyembuhan Asma

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 26 Sep 2017 18:24 WIB
kesehatan
Kendala dalam Penyembuhan Asma
(Foto: Netdoctor)

Metrotvnews.com, Jakarta: Asma adalah jenis penyakit pernapasan yang paling banyak ditemukan pada rentan usia 0-30 tahun dengan presentase 7-12 persen di Indonesia.

Data tersebut diungkapkan oleh Faisal Yunus MD, Ph.D selaku profesor bidang pernapasan di departemen pulmonologi dan respirasi Universitas Indonesia dalam peluncuran program Healthy Lung, Selasa (26/9/2017).

"Dalam sebuah penelitian yang diadakan di Jakarta Timur tahun 2003, sekitar 10,3 persen warga mengalami asma. Lima tahun kemudian, pada 2008, meningkat menjadi 11,8 persen," paparnya.

Ia menambahkan, ciri dari asma terkontrol adalah tak memiliki serangan, kondisi paru normal, tidak mengkonsumsi obat-obatan, dan tidak memiliki memiliki tingkat keparahan berbahaya hingga dibawa ke instalasi Gawat Darurat.

Tidak adanya pertanda inilah yang menjadi problematika tersendiri, terlepas dari adanya unsur genetik pada penderita asma.

"Problematikanya adalah belum ada spirometer, alat untuk mengukur ada tidaknya atau tingkat asma seseorang, di semua fasilitas kesehatan di Indonesia," pungkasnya.

Oleh karena itu, pemberian obat yang kurang tepat menjadi salah satu faktor yang krusial. Ia memberi contoh, terkadang dokter hanya memberikan obat yang yang sifatnya untuk serangan saja, bukan untuk jangka panjang. Akibatnya, penderita mengalami gangguan tersebut secara berkepanjangan karena tak segera dituntaskan.

Meski demikian, ia juga mengapresiasi pemerintah yang sudahh memasukkan beberapa jenis obat asma ke dalam daftar Jaminan Kesehatan Nasional(JKN), yaitu SABA, ICS, LABACs, Aminofilin atau Teofilin, dan Steroid sistemik.

Sayangnya, ketersediaan obat tersebut masih terbatas di beberapa fasilitas kesehatan saja.

"Mungkin maksudnya sistem rujukan, tapi malah tidak berjalan karena pasien jadi tak praktis (lebih memakan waktu)," kata dia.


(DEV)