Rutin Lari Efektif Hilangkan Kebiasaan Merokok

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 15 Sep 2017 12:54 WIB
kesehatan
Rutin Lari Efektif Hilangkan Kebiasaan Merokok
penurunan kadar karbon monoksida pada mereka para perokok yang berlari dalam penelitian. (Foto: Amzn.to)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bagi Anda yang tengah berjuang untuk berhenti merokok, cobalah mulai rutin berlari sebagai salah satu terapi sehat. 

Menurut laporan dari UCB, hampir setengah dari orang yang melakukan sebuah program selama 10 minggu, termasuk kegiatan lari, sukses berhenti merokok.

"Penelitian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat menjadi salah satu cara mengurangi rokok dan sebuah program masyarakat memasukkan kegitan tersebut karena bila melakukannya sendiri akan terasa berat," papar Carly Priebe, mahasiswa postdoktoral dari sekolah kinesiologi UBS.



Sebanyak 178 perokok di Kanada mendaftarkan diri untuk bergabung dalam program 'Run to Quit' tahun 2016 dimana 72 dari mereka bertahan hingga program berakhir dan 37 berhenti karena ada klaim terkait pengujian terkait pengujian karbon monoksida.

Mereka yang berhasil melalui program diwawancarai enam bulan kemudian. Selain lolos program, 91 persen dari para partisipan juga mengaku bahwa kebiasaan merokok mereka berkurang. 

(Baca juga: Berhenti Merokok dan Manajemen Stres Bisa Cegah Demensia)

Para partisipan menghadiri sesi yang terdiri dari instruksi lari, strategi berhenti merokok, berjalan santai atau berlari di luar ruangan sejauh 5 km, dan konseling via telepon melalui saluran nasional.

Para peneliti menggunakan sebuah alat bernama Smokerlyzer untuk mengukur kadar karbon monoksida dalam napas partisipan. 

Hasilnya, mereka menemukan adanya peningkatan kesehatan mental secara signifikan dan penurunan kadar karbon monoksida sebesar sepertiga selama program berlangsung. 



"Meskipun tak bisa berhenti merokok total, pengurangan saja sudah bagus," tukas Priebe. 

Menurutnya, menjadi aktif adalah cara yang jitu. Kebanyakan partisipan adalah pemain baru dalam dunia lari dimana kebiasaan tersebut dapat dijadikan gaya hidup dan dapat memberi dampak pada kebiasaan merokok. 

"Ke depannya, kami mencoba mengajak partisipan untuk tetap datang ke program. Meskipun belum bisa berhenti merokok saat mengikuti program awal, mereka boleh terus datang dan belajar," tutupnya. 










(TIN)