Mengelola Diabetes Selama Berpuasa

Yatin Suleha    •    Rabu, 30 May 2018 19:09 WIB
puasadiabetes
Mengelola Diabetes Selama Berpuasa
Federasi Diabetes Internasional (IDF) Atlas 2017 edisi ke-8 mengungkapkan jumlah penderita diabetes di Indonesia telah mencapai angka 10,3 juta orang. (Foto: Bino Storyteller/Unsplash.com)

Jakarta: Ramadan kerap kali menjadi momen yang cukup menantang bagi penderita diabetes. Penderita diabetes dituntut untuk beradaptasi dengan pola makan berbeda.

Namun di saat yang bersamaan mereka juga harus mengontrol gula darah, menjalankan pola diet serta menggunakan insulin secara tepat guna meminimalisir risiko yang dialami selama berpuasa. 

Federasi Diabetes Internasional (IDF) Atlas 2017 edisi ke-8 mengungkapkan jumlah penderita diabetes di Indonesia telah mencapai angka 10,3 juta orang. Angka tersebut diprediksi akan terus mengalami peningkatan hingga menjadi 16,7 juta pada tahun 2045. 

Fakta ini secara tidak langsung mengungkap bahwa perlu adanya perhatian khusus bagi para penderita dalam mengelola dan menggunakan insulin guna meminimalisir risiko yang akan dialami oleh penderita diabetes selama berpuasa.

Studi mengevaluasi pengelolaan, kontrol, dan komplikasi diabetes

Menilik berkembangnya fenomena tersebut, Novo Nordisk Indonesia berkolaborasi bersama spesialis endokrinologis ternama melakukan sebuah studi mendalam menggunakan International Operations Hypoglycemia Assement Tool (IO HAT).

Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi pengelolaan, kontrol, dan komplikasi diabetes dalam periode retrospektif dan prospektif di antara pasien diabetes tipe 1 dan tipe 2 yang diobati dengan insulin.

"Secara garis besar, banyak penderita diabetes di Indonesia yang masih belum memahami risiko yang mungkin diakibatkan oleh hipoglikemi selama bulan suci Ramadan. Studi ini diharapkan dapat menjadi acuan yang teruji klinis bagi para penderita diabetes agar mereka bisa menjalankan ibadah puasa dengan lancar serta sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap pemerintah dalam menangani penderita diabetes di bawah payung program Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS), Kementerian Kesehatan," sebut rilis yang diterima Medcom.id.

Upaya promotif dan preventif

Dr. Sylviana Andinisari, M.Sc, sebagai Kepala Seksi Gangguan Metabolik Direktorat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular-Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melihat bahwa, “Sebagai penyakit tidak menular dengan jumlah penderita relatif tinggi, diabetes merupakan salah satu penyakit yang menyita perhatian banyak orang, termasuk kami pihak pemerintah."

"Kami saat ini fokus pada pengendalian faktor risiko diabetes melalui upaya promotif dan preventif. Pentingnya deteksi dini sebagai salah satu upaya untuk mengendalikan resiko penyakit tidak menular termasuk juga diabetes. Kami juga terus mendorong antara kementerian dan lintas sektor terkait lainnya untuk meningkatkan kerja sama dalam mengatasi masalah kesehatan sehingga semua kebijakan yang ada berpihak pada kesehatan, terutama dalam hal ini mendukung upaya pencegahan dan pengendalian diabetes yang terus meningkat,” tambah Dr. Sylviana.

(Baca juga: Dilema Berolahraga pada Penderita Diabetes Tipe 1)


(Pembicara pada media briefing “Diabetes dan Ramadan: Mengelola Diabetes Selama Berpuasa”. Foto: Dok. Webershandwick)

Tingkat pengetahuan pasien yang rendah selama penelitian mengarah kepada perlunya peningkatan kesadaran hipoglikemia.

"Manajemen diabetes yang berhasil adalah untuk mencapai kontrol glikemik yang ditargetkan, sambil meminimalkan risiko pasien hipoglikemia melalui pemantauan yang tepat dan menciptakan pemahaman tentang hipoglikemia," sebut dalam rilis yang diterima oleh  Medcom.id.

"Ada kebutuhan yang belum terpenuhi untuk pendidikan yang lebih baik termasuk pentingnya pemantauan glukosa darah, dan kebutuhan untuk pilihan pengobatan yang lebih baru dengan risiko rendah dari profil hipoglikemik."
 
“Di Indonesia, Novo Nordisk berkomitmen untuk mendorong perubahan untuk mengatasi penyakit diabetes. Kami melakukan ini melalui 4 inisiatif strategis termasuk kemitraan dengan pemerintah, pengembangan kapasitas profesional kesehatan, edukasi pasien, dan kampanye kesadaran diabetes," ungkap Dr. Fahad Jameel, Clinical, Medical, Regulatory and Quality (CMRQ) Director, PT Novo Nordisk Indonesia.  

Lebih lanjut Dr. Fahad menambahkan bahwa sebagai komitmen berkelanjutan, memiliki tujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara mengelola diabetes selama bulan puasa untuk menghindari komplikasi melalui kampanye “Diabetes dan Ramadan”. 

Dalam kolaborasi yang dilakukan ini adalah Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Asosiasi Endokrinologi Indonesia (PERKENI), dan media. "Bagi penderita diabetes yang menggunakan insulin, risiko hipoglikemia 7,5 kali lebih tinggi selama berpuasa. Seperti yang terlihat dalam Studi IO HAT Indonesia baru saja dipublikasikan,” ungkap Dr. Fahad.
 
"Dengan diselenggarakannya kampanye ini, diharapkan agar para penderita penyakit diabetes dapat meningkatkan kesadaran mereka akan pengelolaan penyakit diabetes selama berpuasa."

"Pasien dengan diabetes harus berkonsultasi dengan dokter mereka mengenai modifikasi diet dan pengobatan selama Ramadan. Tiga aspek terpenting untuk mengatasi masalah diabetes adalah Peraturan, Pendidikan, dan Motivasi," pungkas Dr. Fahad.





(TIN)