Alasan Pentingnya Vaksin HPV Dijadikan Program Vaksinasi Nasional

Sri Yanti Nainggolan    •    Sabtu, 20 Jan 2018 06:11 WIB
kanker
Alasan Pentingnya Vaksin HPV Dijadikan Program Vaksinasi Nasional
Forum Ngobras membahas vaksinasi HPV (Foto: Medcom/Yanti)

Jakarta: Dari sekian banyak jenis kanker, kanker serviks adalah satu-satunya kanker yang bisa dicegah melalui vaksinasi. Penyakit yang disebabkan oleh Human papillomavirus (HPV) tersebut menyerang leher rahim.

Di Indonesia sendiri, vaksinasi HPV yang menyasar pada anak kelas 5 SD baru dijalankan di beberapa daerah yaitu Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya sejak tahun 2016. Tahun depan, vaksinasi akan meluas ke Makassar dan Manado.

Menurut Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia, Prof. dr. Andrijono SpOG(K), urgensi untuk menjadikan vaksinasi HPV sebagai Program Vaksinasi Nasional cukup tinggi. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan dan budaya orang Indonesia.

Pertama, skrining atau deteksi dini kanker serviks dengan tes pap smear dan IVA tidak terlalu mendapat perhatian dari masyarakat. Apalagi, saat ini cakupan deteksi dini kanker serviks baru 11 persen, yaitu 4 persen dengan IVA dan 7 persen dengan pap smear.

"Orang Indonesia malas dan malu untuk skrining, padahal itu perlu dilakukan secara rutin. Jadi, lebih baik vaksinasi yang sekali dilakukan," kata Prof. Andri dalam diskusi Forum Ngobras, Jumat 19 Januari 2018.

Vaksinasi HPV sendiri terbagi menjadi dua golongan, yaitu usia 9-14 tahun dengan dua dosis (jarak 0 dan 6-12 bulan) dan 14-44 tahun dengan tiga dosis (jarak 0, 2 bulan, dan 6 bulan).

Indonesia memutuskan untuk memberikan di usia 10 tahun secara gratis pada anak-anak

"Hal ini karena data litbang Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa pernikahan di bawah 19 tahun banyak terjadi. Jadi, kalau diberi vaksinasi saat SMP atau SMA sudah kecolongan. Kebanyakan anak menikah setelah lulus SD," terang Prof. Andri.

Padahal, perkembangan alat reproduksi belum sempurna pada usia remaja tersebut.

Di satu sisi, vaksinasi juga bisa digunakan untuk mengurangi angka pengobatan kanker serviks ke depannya.

Beberapa negara yang jalankan program vaksin HPV secara nasional telah mengalami penurunan kejadian kanker serviks secara signifikan. Misalnya di Australia turun 48 persen setelah menjalankan program 10 tahun, sementara Kanada dan Swedia turun 80-84 persen.

Saat ini, sebanyak 82,5 persen pasien kanker serviks yang berobat telah mencapai stadium lanjut dimana metode pengobatan yang dipakai selain kemoterapi adalah sinar.

Untuk bisa melakukannya, pasien harus menunggu dengan jangka waktu cukup lama karena jumlah pasien yang menggunakan alat tersebut banyak.

"Untuk disinar, di Jakarta menunggu hingga 3 bulan, di Surabaya 6 bulan, bahkan di Yogayakarta sampai 1,5 tahun."

Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Chaniago, berpendapat bahwa vaksinasi HPV sebaiknya segera dijadikan program nasional secepatnya.

"Jika jadi, biaya untuk program nasional tidak sebanding dengan dampak penyakit. Komisi IX melihat program kesehatan dari Kemenkes tidak ada perubahan dari tahun ke tahun. Perlu dibuat terobosan-terobosan program, antara lain memulai program vaksinasi HPV," ia berkomentar pada kesempatan yang sama.


 


(ELG)