Perjuangan Gadis 19 Tahun Mencari Pembuat Mata Palsu

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 27 Oct 2017 12:17 WIB
kisah inspiratif
Perjuangan Gadis 19 Tahun Mencari Pembuat Mata Palsu
(Foto:MTVN/Sri Yanti N.)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kecelakaan yang dialami oleh Maya Nur Laila (19) membuatnya harus menggunakan protesa atau bola mata palsu  untuk menunjang rasa percaya dirinya.

Kebutuhan memakai okularis bermula dari kecelakaan bus dalam perjalanan pulang kampung di daerah Subang, Jawa Barat. Peristiwa itu terjadi pada Oktober 2013.

Kecelakaan yang melibatkan bus dan truk yang mengangkut beton itu membuat seluruh wajah Maya terkena pecahan kaca, termasuk bagian matanya.

"Saat itu, kecelakaan Kamis malam dan keesokan paginya, dokter spesialis mata menyarankan bola mata bagian kiri harus diambil karena banyak sekali pecahan kaca yang masuk dan membengkak," kenang Maya saat ditemui Metrotvnews.com, Rabu (25/10/2017).

Sayangnya, RS Arjawinangun yang menangani Maya tak memiliki fasilitas yang memadai sehingga ia pun dipindahkan ke Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Minggu sore, operasi dilakukan.

"Operasi harus segera dilakukan supaya penyebaran tidak terjadi pada mata kanan," tambah Maya,  yang kondisi mata kanannya juga terkena pecahan kaca, namun efeknya tak seburuk mata kiri.

Selama menunggu masa operasi, Maya mengaku merasakan perih dan denyutan di mata kirinya.
Selain itu, mata bagian kanan juga cenderung menyipit sehingga terasa pegal.

Setelah menjalani pengangkatan bola mata, langkah selanjutnya yang disarankan ialah menggunakan protesa atau mata palsu. Namun, tidak demikian dengan Maya yang tergolong mengalami trauma berat.

Ia menunggu selama enam bulan sebelum menggunakan protesa. Selama tiga bulan pertama, ia menggunakan perban.

"Tidur harus setengah duduk untuk memastikan apakah masih ada pendarahan atau tidak."

Tiga bulan kemudian, ia menggunakan kacamata dimana keadaan mata kiri masih kosong. Pada April 2014, kondisi mata makin baik, Maya pun berencana memakai protesa.

"Sebelumnya, mata saya dimasukkan kapas, ternyata masih perih. Akhirnya dilakukan operasi lagi untuk memberikan lapisan pada bagian mata, jadi ketika ada benda lain masuk tak terasa sakit," papar Maya.

Lapisan yang digunakan adalah kulit bibir miliknya yang tergolong tipis.


Akibat kecelakaan, Maya harus merelakan mata kirinya diangkat. (Foto: Sri Yanti Nainggolan)

Setelah 1-2 minggu pasca-operasi, Maya mulai mencari pembuat mata palsu atau okularis. Pihak rumah sakit memberikan dua pilihan okularis, yaitu di daerah Tebet dan salah satu rumah sakit mata di daerah Menteng. Ia pun mencoba menggunakan protesa dari rumah sakit mata.

"Saat menggunakan protesa, mata terasa bengkak, kelopak mata membesar, dan sering belekan. Hingga lebih dua tahun memakainya, saya selalu membawa tisu karena sering mengeluarkan cairan seperti belek," terang Maya, yang berasumsi bahan yang digunakan bukan yang terbaik.

Ketika ia mengeluhkan hal tersebut, solusi yang diberikan adalah obat tetes. Meski demikian, tetap saja gangguan tersebut dialami Maya.

Beruntung, Maya bergabung dalam grup pengguna protesa di media sosial Facebook. Grup yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia tersebut merupakan wadah untuk berbagi pengalaman sebagai pengguna protesa.

"Saya mendapat informasi dari grup ini tentang okularis yang bagus, sambil  mengumpulkan dana. Ada yang bagus, tetapi mahal," pungkas Maya.

Kemudian, pada akhir 2016, ia menemukan Ilyarsi Okularis, klinik pembuat mata palsu di daerah Ciputat, Tangerang Selatan. Ia pun mencoba membuat mata palsu di sana dan mengaku puas.

"Saya dua kali membuat protesa di sini. Alasannya karena protesa pertama kekecilan sehingga harus diganti supaya tak mudah lepas. Kemudian, bulan Juni saya menggantinya," ujar Maya yang mengaku sudah tidak mengalami gangguan seperti menggunakan protesa sebelumnya.




(DEV)