Penelitian: Terapi Seni Atasi Depresi Berat

Pelangi Karismakristi    •    Senin, 25 Dec 2017 15:41 WIB
kesehatan mental
Penelitian: Terapi Seni Atasi Depresi Berat
Melukis gambar berdasarkan tema dan mendiskusikan gambar dengan terapis dapat merefleksikan diri dan menstimulasi otak yang terjadi di alam bawah sadar. (Foto: Pixabay.com)

Jakarta: Terapi seni memiliki efek yang baik pada mereka yang terserang depresi berat. Selain itu juga membantu beberapa orang kembali bekerja setelah berhenti beberapa saat.

Penelitian yang dilakukan oleh Sahlgrenska Academy di Universitas Gothenburg, melakukan pengujian pada 43 pasien dengan tingkat depresi parah atau cukup parah mengikuti terapi seni. Sementara itu, 36 lainnya dengan gejala depresi yang sama tidak mengikuti terapi tersebut. 

Kegiatan dalam terapi seni ini, meliputi beberapa hal, seperti misalnya terapis meminta subjek penelitian untuk menciptakan gambaran tentang perasaannya hari ini.

Setelah 10 sesi terapi seni, pasien yang menderita depresi berat atau sedang parah menunjukkan peningkatan emosi yang lebih baik. 

Setiap sesi dimulai dengan briefing singkat dan relaksasi. Kemudian para peserta akan membuat karya seni (menggambar) dengan krayon dan cat air.


(Penelitian yang dilakukan oleh Sahlgrenska Academy di Universitas Gothenburg, melakukan pengujian pada 43 pasien dengan tingkat depresi parah atau cukup parah mengikuti terapi seni. Foto: Pixabay.com)

"Materinya sederhana, pasien dipersilakan untuk mencorat-coret dan diberikan kebebasan pada mereka untuk mengekspresikan diri sesuai keinginannya. Lalu mereka akan menjelaskan gambaran tersebut dan artinya," jelas Christina Blomdahl, seorang terapis di Institut Kesehatan dan Perawatan Universitas Gothenburg.

Setelah sesi pengobatan selama 10 jam, pasien mengalami peningkatan rata-rata hampir lima kali dari skala penilaian yang digunakan.

Blomdahl mengatakan hal tersebut menunjukkan kemajuan besar terhadap kehidupan sehari-hari, dan berarti pasien dapat kembali bekerja.

"Melukis gambar berdasarkan tema dan mendiskusikan gambar dengan terapis dapat merefleksikan diri dan menstimulasi otak yang terjadi di alam bawah sadar," tambah Blomdahl.

Sementara itu, Director of Operation di British Association of Art Therapist Mary-Rose Brady mengatakan bahwa terapi seni juga sangat bermanfaat bagi anak-anak yang berjuang dengan kesehatan mental.

(Baca juga: Alasan Orang yang Depresi Enggan Menceritakan Masalahnya)


(Melukis gambar berdasarkan tema dan mendiskusikan gambar dengan terapis dapat merefleksikan diri dan menstimulasi otak yang terjadi di alam bawah sadar. Foto: Pixabay.com)

"Kami tahu bahwa anak-anak tidak dapat memahami atau memberi nama perasaan mereka, dan cenderung untuk menggambarkannya. Materi seni memungkinkan anak mengeksplorasi emosi yang mengganggu atau membingungkan, memberi mereka bentuk dan memungkinkan membuat hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku," papar Brady.

Di samping itu, pendiri amal terapi seni Shinr Again, Debbie Thwaites juga memberikan pandangannya. Dia bahkan pernah menemukan seorang anak laki-laki yang menurutnya hanya ingin melukis kotoran.

"Dia tidak bisa mengatakan 'orang ini membuat saya merasa seperti sampah', tapi dia bisa mengeluarkan semua warna coklat dan hitam, membuat kekacauan besar dan mengatakan 'seperti itulah perasaan saya'," ungkap Thwaites.









(TIN)