Lembaga di Amerika Setujui Rejimen Obat AIDS

Anggi Tondi Martaon    •    Jumat, 24 Nov 2017 13:19 WIB
aids
Lembaga di Amerika Setujui Rejimen Obat AIDS
Ilustrasi. Shutterstock

Jakarta: Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) salah satu jenis penyakit mematikan yang belum ada obatnya. Penyakit yang disebabkan Human Immunodeficiency Virus (HIV) ini merusak sistem kekebalan tubuh manusia.

Namun baru-baru ini, US Food and Drug Administration telah menyetujui rejimen dua obat pertama untuk mengobati HIV. Obat ini mampu mengurangi efek samping jangka panjang dari virus HIV ketimbang obat standar.

Obat yang dimaksud yaitu Juluca. Juluca merupakan penggabungan dua obat yang disetujui sebelumnya, yaitu dolutegravir dan rilpivirine. Obat tersebut tersedia untuk pasien yang telah direjimen stabil selama enam bulan.

Juluca merupakan kepunyaan GlaxoSmithKline Plc, yang mayoritas dimiliki oleh ViiV Healthcare yang merupakan bagian dari GSK triple-terapi tradisional yang selama ini mengontrol AIDS virus.

Persetujuan tersebut menempatkan GSK menjadi saingan Gilead Sciences dalam perlombaan pasar perawatan HIV. Namun, penyerapan diprediksi akan melambat karena rilpivirine memiliki kelemahan, yakni harus dikonsumsi dalam waktu yang sama setiap hari.

Diprediksi obat tersebut akan mulai dipasarkan pada  2019 setelah lulus uji klinis.


(TRK)