Penjelasan Mengapa Stres Dapat Memicu Timbulnya Penyakit

Anggi Tondi Martaon    •    Kamis, 11 Jan 2018 17:08 WIB
studi kesehatanstres
Penjelasan Mengapa Stres Dapat Memicu Timbulnya Penyakit
Stres memengaruhi sistem kekebalan tubuh seseorang (Foto:Getty Images)

Jakarta: Stres kerap dituding dapat memicu timbulnya penyakit. Adam Moeser, seorang peneliti dari Michigan State University berhasil menemukan hubungan antara stres dengan penyakit. Setelah melalui penelitian, Moeser menjelaskan bahwa stres berpengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh seseorang.

Studi yang didanai pemerintah federal yang diterbitkan dalam Journal of Leukocyte Biology menunjukkan bagaimana reseptor stres, yang dikenal sebagai faktor pelepasan kortikotropin (CRF1) dapat mengirim sinyal ke sel kekebalan tertentu, atau biasa disebut sel mast. Sel mast berfungsi menjaga daya tahan tubuh manusia.

"Saat proses tersebut terjadi, CRF1 memberitahu sel-sel ini untuk melepaskan zat kimia yang dapat menyebabkan penyakit inflamasi dan alergi seperti sindrom iritasi usus besar, asma, alergi makanan yang mengancam jiwa dan kelainan autoimun seperti lupus," kata Moeser, dikutip www.eurekalert.org.

Dalam penelitiannya, Moeser membandingkan respon histamin pada tikus percobaan. Hal itu dilakukan untuk melihat dua jenis kondisi stres, yaitu psikologis dan alergi, di mana sistem kekebalan tubuh menjadi terlalu banyak bekerja.

Moeser pun membagi subjek penelitian ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama merupakan tikus yang memiliki reseptor CRF1 normal, dan kelompok lainya dianggap kurang CRF1.

"Sementara tikus normal yang terpapar stres menunjukkan tingkat histamin dan penyakit yang tinggi.  Tikus tanpa CRF1 memiliki kadar histamin rendah, sedikit penyakit dan terlindungi dari kedua jenis stres tersebut," kata Moeser.

"Ini memberitahu kita bahwa CRF1 secara kritis terlibat dalam beberapa penyakit yang dipicu oleh stresor ini," kata Moeser.

Moeser menjelaskan, tikus yang tidak memenuhi standar (defisien) CRF1 yang terpapar stres akibat alergi mengalami penurunan penyakit hingga 54 persen. Sementara, tikus yang mengalami tekanan psikologis mengalami penurunan hingga 63 persen.

Lebih jauh, Moeser berharap agar penelitian ini bisa menjadi landasan untuk memecahkan kode bagaimana stres bisa berujung pada penyakit. Selain itu, diharapkan ke depan ditemukan sebuah metode untuk meningkatkan kualitas sel mast pada tubuh.

"Ini berguna untuk meningkatkan kualitas hidup orang-orang yang menderita penyakit terkait stres," ujar Moeser.


(ROS)