Kelainan Jantung Bisa Membuat Anak Jadi Pasif

Media Indonesia    •    Rabu, 28 Sep 2016 11:09 WIB
kesehatan
Kelainan Jantung Bisa Membuat Anak Jadi Pasif
(Foto: Livestrong)

Metrotvnews.com, Jakarta: Penyakit jantung bawaan membuat anak mudah kelelahan dan sakit-sakitan. Sudah barang tentu tumbuh kembangnya terganggu.

Bagi sebagian orangtua, memiliki anak yang kalem dirasa menyenangkan. Alasannya, anak yang tidak banyak ulah mengurangi 'kerepotan' orangtua. Namun, orangtua perlu waspada saat anak terlalu pasif, yaitu lebih banyak diam, sementara teman-temannya riang berlarian ke sana-sini. Siapa tahu, itu disebabkan anak memiliki kelainan di jantungnya.

"Anak yang memiliki penyakit jantung bawaan mudah kelelahan sehingga enggan bermain. Jadi, kalau orangtua melihat anaknya malas bermain, perlu dipastikan penyebabnya. Jangan-jangan karena ada kelainan jantung yang belum terdeteksi," ujar dokter konsultan jantung anak Ganesja Harimurti, pada temu media di Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ), Jakarta, Selasa (20/9).

Penyakit jantung bawaan, lanjut Ganesja, ialah kelainan pada struktur atau fungsi sirkulasi jantung yang terjadi akibat adanya gangguan atau kegagalan perkembangan struktur jantung pada fase awal perkembangan janin.

"Faktor-faktor risikonya, antara lain usia ibu saat hamil yang terlalu tua, di atas 40 tahun. Atau karena infeksi virus tertentu semasa kehamilan, juga karena faktor genetik," kata guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu.

Kelainan jantung bawaan yang terjadi pada bayi jenisnya beragam. Ada yang berupa kebocoran katup pada dinding pemisah antarruang jantung, atau sebaliknya, katup tersebut tidak bisa terbuka.

"Jantung terdiri dari empat ruang, dua ruang serambi di bagian atas, dan dua bilik di bagian bawah. Antarruang tersebut dipisahkan sekat. Pada sekat itu ada katup. Jika katup tidak bisa membuka atau menutup sebagaimana mestinya, pola aliran darah dalam jantung menjadi tidak normal."Selain itu, ada jenis kelainan lain berupa ketiadaan sekat antarruang jantung, serta kelainan pembuluh darah pada jantung yang menyebabkan pola aliran darah kacau.

Sejatinya, menurut Ganesja, kelainan jantung bawaan bisa dideteksi sejak masa janin melalui pemeriksaan USG pada usia kehamilan 4 bulan ke atas. Namun, ada kalanya kelainan yang terjadi lolos dari pemeriksaan. "Misalnya, karena ukuran kebocoran katup jantungnya kecil.

(Baca: Aktif Bergerak untuk Jaga Kesehatan Jantung)

"Dampak dari kelainan tersebut beragam. Ada yang bersifat mematikan, ada yang lebih ringan, tapi mengganggu kualitas hidup. Berdasarkan data, sekitar 9% dari bayi yang meninggal pada bulan pertama setelah lahir disebabkan penyakit jantung bawaan. Separuh dari kasus penyakit jantung bawaan terdeteksi sejak awal kelahiran karena menunjukkan gejala spesifik. Namun, separuhnya lagi tidak terdeteksi.

"Ada kelainan jantung yang membuat bayi baru lahir kebiruan pertanda kekurangan oksigen parah, ada pula kelainan yang tidak menimbulkan gejala tersebut," ujar dokter yang juga berpraktik di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita itu. "Selain tubuh kebiruan, gejala yang bisa dicurigai ialah bayi tidak bisa menyusu lama-lama. Sedikit-sedikit berhenti karena kelelahan dan sesak napas.

"Jika kelainan tidak terdeteksi hingga anak beranjak besar, gejala yang muncul antara lain tumbuh kembangnya tidak bagus, anak sering sakit, dan mudah kelelahan. "Kalau berlanjut hingga dewasa, orangnya akan mudah capai dan sesak napas.

"Selain mengganggu kualitas hidup, penyakit jantung bawaan yang tidak ditangani juga bisa berujung gagal jantung, yakni kondisi ketika jantung tidak lagi bisa menjalankan fungsinya dengan baik.

Terkait dengan penanganan, Ganesja menjelaskan teknologi terkini memungkinkan kelainan-kelainan itu ditangani tanpa operasi pembedahan, cukup dengan intervensi melalui kateter. Intervensi itu bisa dilakukan pada bayi sekalipun. Syaratnya, berat badan bayi minimal 5 kg.

"Sederhananya, kateter dimasukkan lewat pembuluh darah di lipat paha lalu diarahkan ke jantung. Melalui kateter itu, dokter melakukan perbaikan. Perangkat yang diperlukan dimasukkan dan dikendalikan dari luar, seperti menambal kebocoran, membuka bagian yang seharusnya berlubang, tapi tertutup, dan lain-lain," terangnya.

Adapun untuk kasus yang kompleks, perbaikan umumnya dilakukan lewat operasi pembedahan. Ganesja menambahkan, meski teknologi penanganan penyakit jantung bawaan sudah maju, masih banyak pasien yang tidak tertangani. "Penyebabnya antara lain kurangnya pengetahuan masyarakat dan keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan," jelasnya.

Dijamin BPJS

Pada kesempatan sama, Chairman Siloam Heart Institute (SHI) SHKJ Maizul Anwar menjelaskan penanganan penyakit jantung bawaan termasuk jenis tindakan medis yang ditanggung BPJS Kesehatan lewat program Jaminan Kesehatan Nasional.

"SHKJ termasuk salah satu RS yang menerima pasien JKN. Kami berharap dapat membantu masyarakat yang membutuhkan karena antrean operasi penyakit jantung bawaan di RSJPD Harapan Kita sudah mencapai dua tahun," kata Maizul.

Dokter spesialis bedah toraks kardiovaskuler itu menambahkan, SHI didukung tim dokter berpengalaman dan berbagai peralatan yang mendukung. "Jumlah pasien penyakit jantung bawaan anak di SHI periode November 2012-Agustus 2016 sudah mencapai 34 pasien intervensi dan 51 pasien operasi," imbuhnya. (H-1)





(DEV)