Tips Menghindari Efek Samping Penggunaan Implan Payudara

Sri Yanti Nainggolan    •    Kamis, 29 Sep 2016 16:52 WIB
tips kesehatan
Tips Menghindari Efek Samping Penggunaan Implan Payudara
(Foto: Shutterstock)

Metrotvnews.com, Jakarta: Memiliki payudara yang indah menjadi dambaan setiap perempuan. Tak jarang, mereka menyiasati dengan operasi bedah plastik atau pemasangan implan.

Pemasangan implan pada payudara bukan tanpa risiko dan efek samping. Hal tersebut dikatakan spesialis bedah plastik Sidik Setiamihardja, SpB, SpBP dalam diskusi bertajuk 'Cantik Dengan dan Tanpa Bedah Plastik', di Jakarta, Kamis (29/9/2016).

"Pemasangan implan membuat sensitivitas pada bagian payudara berkurang karena adanya saraf yang terputus," jelasnya.

Selain itu, pemasangan implan juga menyebabkan muncul gumpalan-gumpalan kecil pada payudara, yang bisa menghambat proses sirkulasi darah.

Anda yang sudah terlanjur memasang implan, disarankan untuk meremas payudara setiap hari agar tidak terbentuk gumpalan. "Misalnya saat mandi," ucapnya memberi saran.

Selain membuat sirkulasi darah lancar, meremas payudara juga dapat menjaga bentuk payudara tetap indah.

Tambahan Kolagen

Meski operasi bedah plastik seolah membuat segalanya menjadi mudah dan praktis, akan lebih baik jika keremajaan payudara dijaga dengan rutin mengonsumsi suplemen yang mengandung kolagen.

Kolagen adalah komponen protein utama pembentuk dermis, salah satu lapisan kulit terluar setelah epidermis, yang merupakan tempat melekatnya pembuluh darah, saraf, dan folikel rambut.

Peran kolagen yang menghasilkan 25-30 persen protein dalam tubuh ini cukup penting, yakni meremajakan kulit agar tidak mudah kendur.

"Kolagen penting untuk menjaga kulit tetap kencang dan lentur. Ibarat kasur, ketika masih baru, ia masih kencang dan elastis. Lama-kelamaan, kasur akan kempes," jelas dr. Anna Gunawan, SpKK, spesialis dari Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB) Bina Estetika, pada kesempatan yang sama.

Kolagen sebenarnya dihasilkan secara alami oleh tubuh. Namun, seiring pertambahan usia jumlahnya kian menurun.

Anna menjelaskan, sejak usia 25 tahun, secara otomatis tubuh akan kehilangan kolangen sebanyak 1,5 persen per tahun.

Saat ini, ada banyak produk kolagen yang beredar di pasaran, baik dalam bentuk krim, suplemen, hingga suntik. Manakah yang paling efektif untuk mempertahankan elastisitas kulit?

Salah satu produk kolagen paling banyak  berbentuk krim. Namun, krim hanya bekerja pada permukaan kulit, sama seperti pelembab.


Pelembab kulit, baik yang mengandung ataupun tanpa kolagen tidak dapat menembus kulit ke lapisan paling dalam, dan umumnya produk semacam ini tidak dirancang untuk diserap kulit.
Dengan demikian, dapat disimpulkan, krim tidak dapat membantu kulit kembali kenyal dan kencang karena tidak membantu peningkatkan kadar kolagen dalam tubuh.

Berbeda dengan suntik kolagen yang bertujuan mengisi dan mengganti kolagen alami dalam kulit.

"Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyuntikan kolagen mampu mengurangi garis-garis pada kulit dan membantu memudarkan bekas luka," terang Anna.

Kolagen yang disuntikkan biasanya terbuat dari kulit sapi yang diproses, maupun sintetis (human collagen product).

Biasanya, akan ada efek samping setelah melakukan suntik kolagen, yaitu pembengkakan atau memar dalam waktu 24 jam setelah tindakan. Selain itu, daerah suntikan juga bisa mengalami kemerahan, tetapi akan hilang dalam kurun waktu 1 hingga 7 hari.

Bagi wanita, pemakaian make up tidak dilarang sepenuhnya setelah penyuntikan, asalkan tidak menggosok daerah suntikan berlebihan. Hindari juga paparan sinar matahari berlebih atau konsumsi alkohol pada minggu pertama setelah suntikan.

Pada dasarnya, efek pemberian suntikan kolagen tidak bersifat permanen. Manfaat suntik kolagen umumnya bertahan selama 3 bulan.



(DEV)