Beda Perawatan Kecantikan Dulu dan Kini

Yatin Suleha    •    Kamis, 27 Dec 2018 20:02 WIB
kesehatan
Beda Perawatan Kecantikan Dulu dan Kini
Jika dahulu facial tradisional merupakan perawatan yang paling populer, saat ini laser wajah kini menjadi metode perawatan nomor satu yang dipilih wanita dalam hal kecantikan. (Foto: Joshua Chun/Unsplash.com)

Jakarta: Apakah Anda masih ingat perawatan yang Anda aplikasikan lima tahun yang lalu dengan saat ini? Jawabnya pasti berbeda.

Seperti pengalaman Vita Ngastiti yang dulu rajin facial di salon kecantikan. "Waktu kuliah, teman-teman sering facial. Tapi, facial zaman dulu itu setelah selesai mirip seperti muka bonyok. Merah, kulit pada bangun-bangun seperti terantup tawon, dan sakit," kenang Vita.

"Jadi, dulu kalau facial akhirnya karena malu, dilakukan setelah selesai kuliah atau pas Jumat karena weekend di rumah," ucap Vita.

Namun dengan seiring berjalannya waktu, baik metode, cara, dan bahannya saat ini sudah banyak berubah. Termasuk dengan beragam klinik kecantikan yang bermunculan di Indonesia.

Perawatan di klinik kecantikan wanita Indonesia berdasarkan hasil survei 17.889 responden oleh MarkPlus, Inc yang bekerjasama dengan ZAP Clinic mengatakan bahwa sejak berusia kurang dari 13 tahun wanita Indonesia sudah mulai merawat kecantikannya.

Dalam survei yang tertulis dalam ZAP Beauty Index ditemukan perbedaan perawatan, yaitu jika dahulu facial tradisional merupakan perawatan yang paling populer, saat ini laser wajah kini menjadi metode perawatan nomor satu yang dipilih wanita ketika berkunjung ke klinik kecantikan.

(Baca juga: Survei: Pembersih Wajah Terbanyak Dipakai daripada Skincare yang Lain)

Nadya seorang manager publishing di sebuah perusahaan di Kemang, Jakarta Selatan juga sependapat dengan hasil survei ini.

"Zaman dulu itu kalau mau cantik sering banget beberapa bulan sekali facial dan peeling. Tekniknya di salon itu dipencet dengan sebuah alat yang menekan kulit wajah sampai semua jerawat atau komedo hilang. Setelah itu berselang melakukan chemical peeling di wajah," ujar Nadya.

"Maksudnya supaya kulit halus gitu. Jadi dulu itu kalau mau cantik ya harus rela muka kelihatan bengep-bengep dulu. Terus nampak kulit terkelupas dan enggak boleh terkena matahari. Ngilu karena sakit banget, kulit jadi tipis dan enggak boleh pakai bedak atau make up apa pun sampai beberapa minggu."


(Dengan seiring berjalannya waktu, baik metode, cara, dan bahan untuk merawat kecantikan saat ini sudah banyak berubah. Termasuk dengan beragam klinik kecantikan yang bermunculan di Indonesia. Foto: Larm Rmah/Unsplash.com)

"Kalau sekarang enaknya ke klinik kecantikan, tinggal minta skin rejuvination, kulit udahannya malah terasa lebih fresh. Enggak ada lagi muka kelihatan kayak habis ditinju," tawa Nadya.

Dan dalam temuan survei yang sama juga ditemukan beberapa perawatan kecantikan yang dilakukan di klinik kecantikan lima tahun yang lalu versus saat ini. Antara lain:

Lima tahun lalu
1. 58,6 persen melakukan facial tradisional
2. 40,1 persen berkonsultasi ke dokter untuk kecantikan
3. 16,4 persen melakukan chemical peeling
4. 8,6 persen suntik jerawat
5. 7,9 persen melakukan suntik vitamin C

Perawatan kecantikan saat ini
1. 36,0 persen melakukan laser wajah
2. 35,5 persen melakukan konsultasi dokter untuk perawatan kecantikan
3. 29,0 persen melakukan penghilang bulu dengan laser
4. 15,0 persen melakukan perawatan pencerahan ketiak atau lipatan
5. dan 9,3 persen melakukan mikrodermabrasi




(TIN)