Haruskah Khawatir Menggunakan Kloset Duduk Toilet Umum?

Raka Lestari    •    Rabu, 27 Jun 2018 10:55 WIB
tips kesehatan
Haruskah Khawatir Menggunakan Kloset Duduk Toilet Umum?
(Foto: Times Live)

Jakarta: Banyak orang khawatir akan kebersihan toilet umum, terutama dengan kloset duduk. Itu wajar mengingat toilet umum digunakan banyak orang.

Lalu apakah yang bisa Anda lakukan? Apakah Anda harus menghindari sama sekali menggunakan kloset duduk di toilet umum?

Penelitian telah menunjukkan bahwa mikroba yang terdapat pada usus dapat menyebabkan masalah pada feses sekitar 25-54 persen. Dikutip dari Times Live, kotoran manusia dapat membawa berbagai macam patogen yang dapat ditularkan, yaitu Campylobacter, Enterococcus, Escherichia coli, Salmonella, Shigella, Staphylococcus, Streptococcus, bakteri Yersinia, dan beberapa virus seperti norovirus, rotavirus, hepatitis A dan E.

Namun, terjangkit infeksi dari kloset duduk yang terdapat di toilet umum sangat tidak mungkin, karena kebanyakan penyakit yang berkaitan pada usus berkaitan dengan transfer bakteri dari tangan lalu masuk ke mulut, karena adanya kontaminasi dari kotoran dengan tangan, makanan, dan lingkungan sekitar.

Selain itu, kulit manusia juga ditutupi oleh lapisan yang berfungsi sebagai pelindung yang sangat efektif. Ini semua terjadi karena sistem imun dalam tubuh  dalam melindungi dari patogen "kotor".

Jadi, tidak perlu jongkok ketika Anda berada di kloset duduk. Bahkan, jongkok sebenarnya dapat menyebabkan cedera atau meningkatkan risiko infeksi.

Menurut Brianne Grogan, ahli terapis fisik mengatakan bahwa masalah yang akan terjadi ketika Anda jongkok di kloset duduk saat buang air adalah otot-otot dasar panggul dan gelang panggul (prlvic girdle) akan menjadi sangat tegang. Ketegangan pada gelang panggul dapat menyebabkan  kesulitan buang air kecil.

Ia juga menambahkan bahwa ini dapat menyebabkan proses buang air kecil yang tidak tuntas yang akhirnya dapat menyebabkan peningkatan frekuensi dan urgensi buang air kecil, atau dalam kasus-kasus ekstrim bahkan berkontribusi pada kemungkinan peningkatan infeksi kandung kemih.





(DEV)