Benarkah Pernikahan Obat yang Baik untuk Penyakit Jantung?

Anggi Tondi Martaon    •    Kamis, 21 Jun 2018 09:00 WIB
keluargakesehatan jantung
Benarkah Pernikahan Obat yang Baik untuk Penyakit Jantung?
Menurut sebuah studi baru dalam artikel "Marriage Is Good Medicine for the Heart," yang ditulis oleh Robert Preidt, pernikahan ditambahkan ke dalam kelompok untuk melindungi diri dari penyakit jantung. (Foto: David Thomaz/Unsplash.com)

Jakarta: Sebuah pernikahan tidak hanya sekadar menyambung silaturahmi dua keluarga. Namun, dianggap juga sebagai sumber kesehatan bagi kedua pasangan.

Menurut sebuah studi baru dalam artikel "Marriage Is Good Medicine for the Heart," yang ditulis oleh Robert Preidt, pernikahan ditambahkan ke dalam kelompok untuk melindungi diri dari penyakit jantung dan stroke.

Berdasarkan hasil analisa data 34 penelitian 2 juta manusia di Asia, Eropa, Timur Tengah, Amerika Utara dan Skandinavia pada 1963 dan 2015, ditemukan bahwa mereka yang tidak pernah menikah, bercerai atau janda memiliki 42 persen lebih tinggi risiko penyakit kardiovaskular, 16 persen lebih menderita penyakit arteri koroner.

(Baca juga: Pernikahan Bahagia Turunkan Risiko Obesitas saat Paruh Baya)


(Sebuah pernikahan tidak hanya sekadar menyambung silaturahmi dua keluarga. Namun, dianggap juga sebagai sumber kesehatan bagi kedua pasangan. Foto: Derek Thomson/Unsplash.com)

Tidak hanya itu, kelompok yang disebut di atas juga memiliki 42 persen lebih kematian akibat penyakit jantung koroner, dan risiko 55 persen lebih tinggi dari kematian akibat stroke.

Para peneliti Inggris juga menemukan pasangan yang bercerai dikaitkan dengan risiko penyakit jantung sebesar 35 persen. Sementara itu, duda juga dikaitkan dengan potensi mengidap stroke hingga 16 persen lebih.

Dilansir dari WebMD, para peneliti menyebutkan tidak ada perbedaan dalam risiko kematian setelah stroke antara orang yang menikah dan yang belum menikah. Tetapi, mereka yang belum pernah menikah berpotensi meninggal akibat serangan jantung sebesar 42 persen.

Para peneliti mengatakan, temuan mereka menunjukkan bahwa status perkawinan mungkin menjadi faktor risiko independen untuk penyakit jantung, stroke dan mati dari kondisi tersebut. Namun penelitian itu tidak membuktikan bahwa pernikahan menyebabkan risiko jantung menurun. Temuan ini dipublikasikan secara online 18 Juni di jurnal Heart.





(TIN)