Sulit BAB Berisiko Kanker Usus Besar

Media Indonesia    •    Rabu, 22 Feb 2017 11:13 WIB
kanker usus besar
Sulit BAB Berisiko Kanker Usus Besar
Jangan pernah sepelekan konstipasi alias sulit buang air besar (BAB). Selain menimbulkan ketidaknyamanan, konstipasi juga bisa menyebabkan kanker usus besar. (Foto: On Health)

Metrotvnews.com, Jakarta: Jangan pernah sepelekan konstipasi alias sulit buang air besar (BAB). Selain menimbulkan ketidaknyamanan, konstipasi juga bisa menyebabkan kanker usus besar.

Dokter spesialis bedah saluran pencernaan Cosmas Gora T menjelaskan feses mengandung berbagai zat racun. Ketika konstipasi terjadi, kontak antara feses dengan usus besar berlangsung lebih lama daripada kondisi normal. Artinya, kontak antara zat racun dalam feses dengan sel-sel usus besar pun berlangsun lebih lama.

"Hal itu berisiko karena ada kemungkinan zat racun itu memicu sel usus besar untuk bermutasi menjadi sel ganas atau kanker," ujarnya pada acara penggalangan dana sosial bertajuk Fun & Charity with Healthy Love yang digelar Diva Baksos dan RS Premier Jatinegara di Jakarta, pekan lalu.

Karena itu, lanjut Cosmas, penting untuk mengupayakan agar BAB berjalan lancar. Idealnya, BAB berlangsung setiap hari tanpa kesulitan.

"Sebenarnya, langkah untuk lancar BAB mudah saja, tapi harus dilakukan dengan konsisten. Yaitu, memperbanyak asupan sayur dan buah, mencukupi kebutuhan air minum, dan olahraga," kata dokter yang berpraktik di RS Premier Jatinegara itu.

Ia menjelaskan, sayur dan buah kaya akan serat yang bermanfaat memperlancar BAB. Selain itu, sayur dan buah kaya akan antioksidan. "Antioksidan merupakan zat penangkal radikal bebas yang juga pemicu kanker. Jadi, manfaat sayur dan buah sangat besar, memperlancar BAB sekaligus menangkal radikal bebas.

"Terkait dengan air minum, Cosmas mengatakan idealnya asupan air minum sekitar 8 gelas per hari. Adapun soal olahraga, sambungnya, sangat menunjang kelancaran BAB. "Sebab, dengan kita berolahraga, gerak peristaltik usus menjadi aktif. Hal itu akan memperlancar BAB," jelasnya.

Pada kesempatan itu, Cosmas juga mengingatkan pentingnya upaya deteksi kanker usus besar, terutama bagi mereka yang berisiko. "Faktor genetik berperan besar pada kasus kanker usus besar. Jadi kalau ada orangtua atau saudara kandung yang mengalami, seseorang perlu waspada. Sebaiknya lakukan pemeriksaan deteksi dini," sarannya.

Pemeriksaan untuk mendeteksi dini kanker usus besar antara lain berupa pemeriksaan darah samar pada feses di laboratorium. Jika terdeteksi adanya darah di feses, patut dicurigai sebagai kanker usus besar sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Pemeriksaan lainnya ialah endoskopi atau 'peneropongan' usus. Selain itu juga pemeriksaan radiologi seperti x-ray, CT scan, dan MRI.

"Semakin dini kanker usus terdeteksi dan ditangani, pengobatannya lebih mudah dan murah," ujarnya.

Gaya hidup

Selain faktor genetik dan pertambahan usia, timbulnya kanker usus besar juga dipengaruhi gaya hidup. "Faktor gaya hidup itu seperti, kegemukan, banyak mengonsumsi daging merah, minimnya asupan buah dan sayur, kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol. Selain itu, pengidap diabetes melitus juga berisiko," papar Cosmas.

Terkait dengan gejala, ia menerangkan kanker usus besar dapat menimbulkan kesulitan BAB, juga sebaliknya, diare. Gejala lainnya antara lain perut kembung, kram, feses menjadi kecil-kecil dan keras, turun berat badan secara signifikan, dan cepat lelah.

Pada kesempatan sama, drg Kencana Widya selaku Marketing Manajer RS Premier Jatinegara menjelaskan pihaknya menyertakan edukasi tentang kanker usus besar pada acara Fun & Charity with Healthy Love itu untuk menambah wawasan dan kesadaran masyarakat akan ancaman penyakit tersebut.

RS Premier Jatinegara juga menyosialisasikan centre of excelent yang dimiliki, yaitu di bidang saraf (penanganan kasus stroke) dan bedah saraf, jantung dan bedah jantung, urologi, dan bedah urologi, serta bedah digestif (saluran cerna).


(DEV)