Banyak Kasus TBC Belum Terdeksi dan Terlaporkan

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 28 Nov 2017 15:54 WIB
Banyak Kasus TBC Belum Terdeksi dan Terlaporkan
Kementerian Kesehatan juga telah mengeluarkan program Temukan Obati Sampai Sembuh (TOSS) TBC sebagai pedoman dalam pengobatan. (Foto: Angel Origgi/Unsplash.com)

Jakarta: Tuberkulosis (TBC) hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia yang menjadi penyumbang penderita TBC terbesar di dunia. 

Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan RI dr Wiendra Woworuntu, M. Kes menjelaskan bahwa 660 dari 100 ribu orang di Indonesia menderita penyakit TBC atau setara dengan 1,6 juta warga. Terlebih lagi terjadi penambahan satu juta kasus baru setiap tahunnya.

Di satu sisi, salah satu tujuan dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) adalah mengeliminasi TBC pada tahun 2030. Tahun ini, sudah terdapat penurunan angka kematian akibat penyakit sebesar 39 persen dan 90 persen kasus penyakit dibandingkan tahun 2015. 


(Peluncuran Kompetisi Video Blog (Vlog) TBC, Selasa 28 November 2017.  Foto: Metrotvnews.com/Sri Yanti Nainggolan)

Berbagai kendala dihadapi Kementerian Kesehatan dalam memberantas TBC, seperti kurangnya eduksi soal penyakit, adanya stigma yang membuat penderita merasa malu, dan cara penyebaran yang cukup rentan. 

(Baca juga: Tuberkulosis Tak Hanya Menyerang Paru-paru)

"Sekitar 676 ribu kasus belum terdeteksi dan terlaporkan. Oleh karena itu, saya merasa penyebaran terkait informasi TBC perlu dilakukan," ujar dr Wiendra dalam peluncuran Kompetisi Video Blog (Vlog) TBC, Selasa 28 November 2017. 

Kementerian Kesehatan juga telah mengeluarkan program Temukan Obati Sampai Sembuh (TOSS) TBC sebagai pedoman dalam pengobatan. Maksud dari program tersebut adalah untuk mengedukasi dan mendorong masyarakat untuk lebih berhati-hati dengan penyakit tersebut. 

TBC adalah penyakit saluran pernapasan serius yang umumnya menyerang mereka yang berusia produktif. Lama pengobatan untuk penyakit ini normlanya adalah enam bulan. 








(TIN)