Kurang Tidur Tingkatkan Risiko Kematian pada Penderita Komplikasi Penyakit

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 30 May 2017 11:35 WIB
tidur
Kurang Tidur Tingkatkan Risiko Kematian pada Penderita Komplikasi Penyakit
Jika Anda memiliki beberapa faktor risiko penyakit jantung, menjaga pola tidur dan mengonsultasikan dengan dokter bila terkena gangguan tidur adalah hal yang penting untuk menurunkan risiko kematian. (Foto: Vylette.buciorweb.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah penelitian menemukan bahwa tidur malam kurang dari enam jam dapat meningkatkan risiko kematian pada mereka yang menderita sindrom metabolik, sebuah kombinasi dari diabetes, tekanan darah tinggi, dan obesitas. 

Studi tersebut menemukan bahwa orang-orang tersebut berisiko 1,49 kali lebih besar terkena stroke atau meninggal. Penderita penyakit metabolik juga 1,99 kali lebih besar terkena berbagai jenis penyakit dibandingkan mereka yang sehat. 

Sementara, orang sehat yang tidur kurang dari enam jam 2,1 kali lipat lebih berisiko terkena stroke, penyakit jantung, atau meninggal. Sementara, risiko pada mereka yang tidur lebih dari durasi tersebut lebih kecil. 



(Baca juga: Tidur Lebih Nyenyak dengan Masker Tidur)

"Jika Anda memiliki beberapa faktor risiko penyakit jantung, menjaga pola tidur dan mengonsultasikan dengan dokter bila terkena gangguan tidur adalah hal yang penting untuk menurunkan risiko kematian akibat penyakit jantung atau stroke," ujar pemimpin studi Fernandez-Mendoza dari University of Pennsylvania.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association tersebut melibatkan 1.344 orang dewasa berusia yang rata-rata berusia 49 tahun dan 42 persen adalah pria, yang setuju untuk menghabiskan satu malam di laboratorium tidur. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 39,2 persen dari mereka memiliki setidaknnya tiga faktor risiko yaitu indeks massa tubuh (BMI) lebih dari 30 dan peningkatan total dari kolesterol, tekanan darah, puasa gula darah dan trigliserida. Selama studi lanjutan yang berlangsung selama 16,6 tahun, sebanyak 22 persen partisipan meninggal dunia. 








(TIN)