Studi: Individu Ekstrovert dan Teliti Tak Mudah Alami Depresi

Sri Yanti Nainggolan    •    Rabu, 06 Jun 2018 10:00 WIB
psikologistudi kesehatan
Studi: Individu Ekstrovert dan Teliti Tak Mudah Alami Depresi
Para peneliti di University of Buffalo menemukan bahwa dua kombinasi introvert dan sifat teliti dapat membantu mencegah atau memprediksi kesehatan mental yang buruk. (Foto: Allef Vinicius/Unsplash.com)

Jakarta: Sebuah studi menemukan bahwa individu yang sangat ekstrovert dan teliti cenderung terlindungi dari gangguan mental depresi dan gelisah.

Para peneliti di University of Buffalo menemukan bahwa dua kombinasi tersebut dapat membantu mencegah atau memprediksi kesehatan mental yang buruk.

"Kami tahu bagaimana sifat-sifat ini berhubungan dengan gejala penyakit mental, namun kini kami sedang melihat bagaimana keduanya saling memengaruhi," tukas pemimpin studi Kristin Naragon-Gainey.

"Kita harus mempertimbangkan keseluruhan pada seseorang untuk memahami kemungkinan timbulnya gejala negatif."


(Sebuah studi menemukan bahwa individu yang sangat ekstrovert dan teliti cenderung terlindungi dari gangguan mental depresi dan gelisah. Foto: Rawpixel.com/Unsplash.com)

Kesadaran dan ekstroversi adalah dua ciri kepribadian 'Lima Besar'. Tiga lainnya adalah terbuka pada pengalaman, kesetujuan, dan neurotisme. Kelima sifat tersebut dikatahui dapat meningkatkan risiko depresi dan kegelisahan.

Para psikolog mengklaim bahwa kebanyakan orang teridentifikasi memiliki satu dari lima kepribadian tersebut. Biasanya orang yang sangat ekstrovert, sangat ramah dan selalu mengelilingi diri mereka dengan orang-orang.

Sementara, orang yang sangat teliti cenderung mengekspresikan diri dengan tingkat disiplin yang tinggi dan cenderung membuat rencana secara terperinci.

(Baca juga: Cintai Diri Sendiri, Salah Satu Cara Meningkatkan Optimisme)

Ketika keduanya dikombinasikan dengan neurotisisme (dimana orang rentan mengalami emosi negatif), maka orang tersebut cenderung tidak akan mengalami gangguan suasana hati.

Para peneliti mewawancarai 463 perserta yang telah mendapat perawatan psikiratri dalam dua tahun terakhir.


(Para peneliti di University of Buffalo menemukan bahwa dua kombinasi introvert dan sifat teliti dapat membantu mencegah atau memprediksi kesehatan mental yang buruk. Foto: Fernando Brasil/Unsplash.com)

Survei tersebut menunjukkan sejauh mana para partisipan teridentifikasi kelanjutan dari neurotisme, kesadaran, dan keterbukaan.

Mereka yang memiliki ketiga sifat tersebut lebih siap untuk terlibat dalam interaksi sosial yang berarti dan merasa puas. Oleh karena itu, mereka memiliki risiko gangguan suasana hati yang lebih rendah.

"Jika seseorang memiliki tingkat ekstraversi yang tinggi, mereka kemungkinan akan sangat baik dalam mengumpulkan dukungan sosial atau meningkatkan pengaruh positif mereka melalui cara-cara sosial," Naragon-Gainey menjelaskan.

"Demikian pula, kesadaran berkaitan dengan usaha mencapai tujuan dan membuat rencana dalam tindakan."





(TIN)