Terapi Kognitif untuk Mengatasi Depresi

Nia Deviyana    •    Rabu, 24 Aug 2016 13:38 WIB
kesehatan
Terapi Kognitif untuk Mengatasi Depresi
(Foto: Foxnews)

Metrotvnews.com, Jakarta: Depresi merupakan faktor utama pemicu keinginan bunuh diri. Tercatat,secara global, 75 persen laki-laki yang depresi memutuskan bunuh diri. Bahkan, risiko bunuh diri pada perempuan dua kali lebih besar.

Data Riskesdas 2013 menunjukkan, prevalensi gangguan mental emosional (gejala-gejala depresi dan kecemasan) pada usia 15 tahun ke atas adalah 6 persen. Artinya, ada lebih dari 14 juta jiwa yang menderita gangguan mental emosional di Indonesia.

Depresi dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya gen. Berikut, kami rangkum 5 fakta tentang depresi, seperti dikutip Huffington Post.


1. Dipengaruhi Gen

Sebuah penelitian menemukan, letak DNA berkaitan dengan depresi. Mengambil data 23andMe, sebuah lembaga yang melakukan penelitian terhadap gen, ada sekitar 15 gen dalam susunan kimiawi yang berkontribusi menyebabkan depresi.

2. Memengaruhi kesehatan fisik

Depresi berdampak pada aspek kesehatan seseorang secara keseluruhan, baik psikis maupun fisik. Orang yang depresi biasanya mengalami penurunan nafsu makan, sering sakit kepala, dan mengalami gangguan tidur.

3. Memengaruhi produktivitas kerja

Depresi secara langsung menurunkan semangat dan motivasi, pada akhirnya memengaruhi produktivitas kerja. Berdasarkan data penelitian yang dilakukan University of Michigan Depression Center, penurunan produktivitas akibat depresi menyebabkan kerugian sebesar USD44 miliar per tahun.

4. Banyak penderita merasa malu

Stigma negatif yang berkembang di masyarakat terkait depresi membuat penderitanya merasa malu untuk berkonsultasi. Hal ini yang menghambat pengobatan penderita depresi.

5. Dapat dikelola

Depresi, meskipun termasuk gangguan mental yang berat, bisa dikelola dengan baik dengan pengobatan tepat. Sebuah penelitian menemukan, terapi kognitif dapat mengobati depresi ringan hingga berat.

Terapi kognitif dikembangkan pada 1960-an, sebagai alternatif mengobati depresi. "Konsep terapi ini mengandalkan kekuatan sugesti," kata Judith S Beck, Ph.D, direktur Beck Institute for Cognitive Theraphy and Research di Philadelphia.

Dengan terapi kognitif, penderita akan belajar mengendalikan pikiran bawah sadarnya yang bersifat negatif, serta diajak berfikir secara lebih realistis.

Pada depresi berat, pengobatan dibarengi dengan konsumsi obat antidepresan di bawah pengawasan dokter. 


(DEV)