Debu Dalam Ruangan Berhubungan dengan Resistensi Antibiotik

Sri Yanti Nainggolan    •    Selasa, 13 Sep 2016 14:25 WIB
studi kesehatan
Debu Dalam Ruangan Berhubungan dengan Resistensi Antibiotik
(Foto: Health) jangan gunakan produk antibakteri kecuali Anda memiliki masalah imunitas.

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science & Technology mengungkapkan, bahwa debu dalam ruangan yang mengandung kimia antibakterial, juga turut berkontribusi dalam krisis kesehatan secara global di bidang resistensi (kekebalan) terhadap antibiotik. 

Pekan lalu, FDA mengeluaran aturan dimana beberapa jenis bahan kimia, seperti triklosan dan triklokarban, tidak bisa lagi dimasukkan ke dalam komponen sabun. Hal ini karena bahan tersebut sudah tidak efektif lagi dalam membunuh kuman dan dapat menyebabkan gangguan hormon, resistensi bakteri, dan kanker. 

Namun, sepertinya langkah awal tersebut tidak terlalu berpengaruh. "Hal ini dikarenakan bahan kimia seperti triklosan, ada di berbagai produk termasuk bahan material, plastik, serta kosmetik. Aturan FDA ini tidak berlaku pada mainan bayi, selimut, peralatan dapur, dan sebagainya," jelas Erica Hartmann, Ph.D., penulis laporan sekaligus asisten profesor teknik sipil dan lingkungan di Northwestern University.

Debu di Peralatan Rumah Tangga
Bahan kimia yang ditambahkan pada produk tersebut selama pembuatan tidak terus berada di peralatan tersebut, namun juga berubah menjadi debu yang bisa terhirup oleh manusia.

"Triklosan ditemukan hampir di semua sampel debu yang diuji di seluruh dunia. Mengingat meluasnya penggunaan produk antimikroba ini, saya tidak akan terkejut jika terdapat jenis debu ini di banyak rumah," papar Hartmann. 

Dalam studi tersebut, Hartmann dan para rekannya menganalisa sampel debu dari fasilitas olahraga dan sekolah. Mereka menemukan bahwa, ada keterkaitan antara jumlah kimia yang tinggi dengan level gen yang tinggi, yang keduanya terkait terhadap kekebalan pada beberapa obat. Secara keseluruhan, mereka menemukan ada enam hubungan keterkaitan yang memisahkan antara debu antibakterial dan gen resistensi antibiotik. 

(Baca juga: Tips Bersihkan Bagian Rumah yang Sering Terlupakan)

Penemuan tersebut tidak bisa menunjukkan secara definitif bahwa bahan kimia yang timbul disebabkan karena adanya gen tersebut, namun keduanya cukup berhubungan erat. Dan meskipun debu di dalam ruangan memiliki tingkat bahan yang lebih rendah, dibandingkan dengan pasta gigi atau sabun antibakteri, Hartmann mengungkapkan bahwa paparan yang dihasilkan masih cukup signifikan. Padahal, manusia menghabiskan sekitar 90 persen waktu mereka di dalam ruangan. Penelitian lebih lanjut terhadap hal ini masih dibutuhkan. 

Rekomendasi
"Rekomendasi saya, jangan gunakan produk antibakteri kecuali Anda memiliki alasan khusus seperti masalah imunitas," saran Hartmann. Salah satu cara untuk menghindari debu adalah dengan memberi ventilasi rumah. 

"Kita tahu, bahwa sebuah gedung memiliki sistem pengendali udara (seperti AC) atau jendela yang mengalirkan udara secara langsung berefek pada adanya bakteri yang kita temukan di dalam ruangan. Namun kita belum selesai menindaklanjuti bahan kimia tersebut," ujarnya. 

Hartmann tengah meneliti debu dari bangunan tambahan, termasuk rumah hunian. Dia berharap karyanya akan menunjukkan pada penelitian lain yang mengungkapkan bahwa, bahan kimia antibakteri ternyata lebih berbahaya dan perlu adanya keputusan yang bijak dalam hal penggunaannya. 

"Saya pikir, kita perlu menemukan cara untuk menggunakan antimikroba dan antibiotik di manapun secara bertanggung jawab: di rumah, di bidang pertanian, dan dalam bidang kedokteran; untuk benar-benar mengatasi masalah resistensi antibiotik ini," katanya.





(TIN)